Tidak tanggung-tanggung, gagasan ini
direalisasikan secara integral dan komprehensif. Pertama diawali dari
pembangunan kesadaran atas aturan main. Berarti perlunya dilakukan penyadaran
terhadap manusia itu sendiri melalui institusi pendidikan dengan berbagai
tingkatan.
Dasar, menengah, atas, universitas.
Cermatilah, dimana tempat di bumi ini yang tidak dibangun institusi pendidikan
dengan tingakatan tersebut. Misalkan ada daerah yang belum mempunyainya, dapat
dipastikan akan ada usaha untuk mengadakannya. Pendidikan menjadi semacam
ideologi default yang menghegemoni.
Baru dikatakan manusia jika sudah
mengetahui dan mengenyam pendidikan. Baru dikatan negara yang maju dan modern
jika sudah berusaha memaksimalkan pendidikan bagi rakyatnya. Rakyat pun
dituntut juga untuk mengaksesnya dengan usaha sendiri ataupun dengan sokongan
pihak terkait.
Langkah ini adalah langkah awal
memahamkan manusia tentang cara atau aturan main kemajuan. Cara mencapai yang diesebut
hak milik yang sudah disepakati. Walaupun tidak pernah ada deklarasi yang
secara khusus menyatakan hal ini, tapi inilah yang sebenarnya terjadi.
Konsep ini dapat dengan mudah
diterima tanpa adanya deklarasi, tanpa adanya pemaksaan. Mungkin karena
didukung oleh insting alamiah manusia sehingga mudah diterima.
Sekilas seakan-akan manusia menemuka
solusi peradaban. Kelihatannya inilah garis yang memang ditentukan untuk
manusia. Tapi jangan terlalu terpana dengan pencapaian itu, karena pencapaian
ini juga diikuti dengan evolusi konflik yang sebelumnya berupa gesekan yang
berujung pada bentrok fisik kemudian berubah bentuk menjadi pertandingan
perebutan hak milik secara sistematis dan lebih “sah”.
Efeknya tidak kalah menghancurkan
dari model konflik yang terdahulu. Hanya saja bukan fisiknya yang rusak tapi
pikiran dan jiwa manusia yang dikoyak. Disembelih kemanusian dari manusia dan
dijauhkan dari nilai-nilai Tuhan.
Yang paling penting dan menjadi
tujuan manusia zaman modern adalah bagaimana mempersiapkan diri sebaik mungkin
dan secanggih mungkin untuk siap berlaga dalam gelanggang perebutan hak milik.
Apapun yang relevan bagi tercapainya
kemenangan dalam pertempuran akan diusahakannya dari segi fisik, intelektual
bahkan jiwanya pun disetting untuk punya ketangguhan juang menghadapi
kompetensi. Apapun caranya tetapi semangatnya tetap sama yaitu semangat
menyongsong kemenangan dalam perebutan hak milik.
Hak milik pun sebatas hak milik yang
bersifat materi dan kekusaan. Hal ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Sulit
rasanya untuk menghindar dari hal ini. Lagi pula mengapa menghindar? Kan tidak
ada yang menyalahkan dan juga semua orang sepakat bahwa memang seperti inilah
cara dunia bergulir. Kalau kita tinjau dari segi tersebut memang tidak ada
alasan untuk menghindar, bahkan kita akan dicap kampungan dan primitif kalau
sampaia melawan arus.
Tapi coba sesekali menengok ke langit
kesadaran jiwa yang tertinggi. Tanyakan apakah tepat kepetusan yang diambil
oleh mayoritas penduduk bumi itu? Apakah sudah sesuai dengan kodrat
penciptannya? Apakah memang benar inilah konsep paling final dan paling tepat
bagi eksistensi manusia? Saya sarankan anda menengok ke langit memang karena
sudah tidak ada lagi tempat untuk bisa merenungi masalah ini dengan lebih
jernih.
Kita sudah sangat terkepung dengan
keadaan. Sudah sangat tidak bisa lari dari kenyataan. Satu-satunya jalan ya
bertanya pada yang sesungguhnya memilki hak milik. Pemegang kunci-kunci langit
dan pencetus keberadaan manusia itu sendiri. Mulailah dengan segenap tenaga
menerbangkan kesadaranmu ke sana agar kamu bisa melihat gamabar besar peradaban
dan arah geraknya dari ketinggian. Sehingga jelas maksud dan tujuannya.
Nanti akan terlihat bahwa ternyata apa
yang manusia lakukan dewasa ini sebenarnya sudah banyak menyeleweng dari iradah
langit. Bukan posisi manusia untuk memiliki hak milik. Hakikatnya semua ini
adalah pinjaman. Yang dimaksud semua ini ya benar-benar semuanya tanpa
terkecuali. Bahkan diri manusia sendiri bukanlah miliknya. Kita ini ada yang
memilki.
Posisi kita adalah abdi. Segala yang
dilakukan adalah pengabdian. Bahkan metabolisme biologi dan sosial kita adalah
suatu bentuk pengabdian. Engkau berjalan itu pasti mengabdi pada hukum gerak.
Bergaul juga merupakan pengabdian pada fitrah manusia. Kita tidak bisa lari
dari semua itu. Tapi ada satu bagian yang oleh Allah, manusia diberi sedikit
kebebasan untuk tidak taat asas pengadian.
Yaitu pada bagian sikap hidup. Dibuat
sedemikian rupa oleh Allah sehingga manusia menjadi penentu atas pilihannya
sendiri. Menjadi tuan sementara atas apa yang dikehendakinya walaupun kebebasan
itu tetap terbatas dan tidak pernah bisa menembus batas kehendak Allah. Pada
bagian inilah banyak manusia tergelincir. Karena kesempatan menjadi tuan
sementara itulah manusia merasa menjadi benar-benar tuan bagi dirinya.
Bukanlah kamu yang memilki dirimu,
hanya Allah yang memiliki. Kamu hanya dipinjami dirimu untuk suatu saat di
proses kembali kepadanya. Dan memang semuanya sedang menjalani proses Ilaihi raaji'uun.
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. (QS
Al Baqarah, Ayat 156)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku. ( QS, Adz Dzaariyaat, Ayat 56)
