Sering kali
orang tidak sadar ketika dia tertimpa azab. Karena spektrum azab yang begitu
rupa dan kadang-kadang tersamar antara azab dan berkah, antara azab dan rezeki,
antara azab dan pertolongan.
Orang yang
punya uang banyak, bisa jadi uangnya adalah berkah tapi tidak menutup
kemungkinan kalau itu azab. Panjang umur bisa jadi kesempatan untuk
memperbanyak manfaat atau sebaliknya itu suatu tenggang waktu yang memang
desengaja agar lebih besar kezaliman yang dihasilkan.
Urusan azab
memang bukan urusan sederhana. Bukan hanya urusan hitam putih. Bahkan belum
tentu abu-abu. Ketika kita menyangka dia hitam ternyata putih. Ketika kita
simpulkan dia abu-abu tapi indikasinya sangat jelas hitam atau pada akhirnya
putih lah hakikatnya.
Ini hanya
mungkin terjadi lantaran Allah yang menghendaki. Dan azab menurut saya adalah
fenomena yang hanya Allah yang mengerti benar presisinya. Manusia hanya bisa
menerka-nerka dengan keterbatasan pandangannya.
Allah pernah
berfirman, buatlah tipu daya tetapi ingat Allah maha membuat tipu daya.
“Orang-orang kafir itu membuat tipu
daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas
tipu daya” (Ali Imran, 54)
Azab
sangat mungkin adalah bagian dari tipu daya-Nya. Kalau yang merencanakan tipu
daya Allah siapa yang bisa menghalangi? Siapa yang bisa merevisi?
Maka dalam
menghadapi azab kita butuh bimbingan dari Allah. Seperti nabi Ayub yang terimpa
penyakit yang mungkin sebagian kita belum pernah mengalaminya. Akan sangat
susah apabila Ayub as. tidak menanggapinya sebagai ujian.
Mana mungkin
orang yang dulunya berjaya kemuidian menjadi hina, tetapi tidak pernah berhenti
bersyukur? Disni nabi Ayub memberi kita pandangan lain tentang apa yang disebut
azab.
Bahwa azab
bukanlah yang identik dengan kesengsaraan. Azab bukanlah kehinaan di dunia. Azab
tidak hanya yang dirumuskan banyak orang sebagai kesakitan, kesusahan,
penderitaan, kemiskinan, atau semua yang kita pandang jelek di dunia ini.
Seperti juga
firaun jaman nabi Musa as. Memang kurang apa kekuasaanya ? Memang kurang kaya
seperti apa lagi ? Memang susah bagi firaun untuk mengakses kenikmatan dunia ?
Tapi apakah yang dimiliki firaun termasuk dalam spektrum berkah ataukah azab ?
Mari kita
melompat dari Ayub dan firaun ke dalam ranah kehidupan kita seberapa besar
kadar azab dan berkah di dalamnya. Kalau isinya seratus persen berkah maka
bereslah hidup kita. Tidak usah pusing-pusing memikirkannya. Cukup kita jalani
saja. Toh mau dibolak-balik seperti apa hasilnya tetap keberkahan. Tapi apa
jaminannya ? Presisi ilmu apa yang membuat manusia berani menjamin bahwa
hidupnya penuh dengan berkah tanpa ada setitik atom pun azab ?
Atau mungkin
kita perlu semacam simposium para pakar dalam berbagai bidang untuk merumuskan,
atau sekedar meraba apa benar kita tidak sedang di azab ?
Bersambung....
