Allah
membersamai hamba-Nya dimana pun dia berada. Pada tempat dan waktu tanpa
mengenal batas dan tidak mungkin dibatasi. Di setiap episode-episode kehidupan,
di setiap gerak dan kejadian. Disela-sela pergantian detik dan perubahan
ruang, disitulah wajah Allah.
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di
situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (QS Al Baqarah, 115)
Yang
membedakan adalah kesadaran akan kebersamaan (maiyah) itu sendiri. Kejadian
fisiknya sama. Sama-sama sholat berjamaah, di masjid yang sama, mengikuti
gerakan imam yang sama, yang membedakan adalah kesadaran masing-masing.
Ada yang
mengerjakan karena tuntutan sosial. Ada yang mengerjakan karena kebiasaan. Ada yang
memang sudah mencapai tingkat kesadaran akan tujuan dan hakikat sholat. Orang
yang dituntut secara sosial, orang yang terbiasa, orang yang mencapai
kesadaran, gerakannya secara fisik sama.
Begitu juga
dengan rasa selalau dibersamai oleh Allah (Maiyatullah). Tidak ada ciri fisik
yang bisa menjadi parameter. Tidak ada alat pendeteksi kesadaran akan
kebersamaan tersebut. Semua itu tersimpan rapat dalam hati yang paling dalam
(fuad), paling tersembunyi, yang disana hanya ada dirimu sendiri serta Allah
yang maha mengetahui.
Keadaan
bersama Allah adalah salah satu wujud dari Tauhid. Seakan-akan kita “dikepung”
oleh Allah, setiap sisi pandangan, pendengaran, perasaan, pemikiran tidak bisa
terlepas dari Allah, baik sebelum, ketika, dan sesudahnya.
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang
ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang,
melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya.
Dan tiada pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak,
melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan
memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS Al Mujaadilah, 7)
Dari puncak
kesadaran inilah maka akan tercapai yang dinamakan ahlakul karimah (ahlak yang
mulia). Dimana segala perilaku, pemikiran, dan keputusan diaktualisasikan
dengan mempertimbangkan Allah. Kalau berlaku “X” Allah senang, mengizinkan,
atau malah mungkin membuat Allah murka.
Maka ketika
kesadaran ini menjadi kesadaran kolektif, akan terbentuk suatu tatanan
masyarakat yang mencerminkan rahmatan lil alamin, dan inilah tujuan risalah
yang dibawa Nabi Muhammad saw.
