Banyak yang tidak sadar ilmu itu (dalam hal ini yang biasa disebut sains/science) mempunyai suatu paradigma yang khas. Paradigma inilah yang akan menentukan arah perkembangan dan nilai-nilai yang di anut oleh ilmu tersebut.
Sehingga belum bisa dikatakan secara pasti bahwa ilmu itu bebas nilai. Anggapan kebebasan nilai ini muncul akibat suatu paradigma tertentu, jadi jelas sudah bukan bebas nilai. Kalau benar ilmu bebas nilai maka kita tidak akan menjumpai sejarah perkembangan ilmu seperti yang sudah terjadi (coba anda telusuri sejarah perkembangan ilmu/science dan filsafat ilmu).
Dan yang mengherankan, banyak akademisi yang tidak sadar akan ketidak bebasan nilai yang dikandung suatu ilmu. Hal ini dikarenakan para pembelajar ilmu tidak menitik beratkan pada apa itu ilmu tetapi secara membabi buta mengeksploitasi manfaat dari ilmu. Jadi asas manfaatlah yang menjadi fokus utama dan lebih dipersempit lagi manfaat dalam lingkup materiil.
Keadaan ini juga tidak bisa kita salahkan, karena ini juga salah satu dari kandungan nilai dari paradigma ilmu yang kita anut, yang notabene menghegemoni seluruh negeri ini bahkan seluruh dunia.
Kiblat filosofi ilmu yang kita adopsi jangan dikira netral tanpa tendensi apapun. Asumsi inilah yang begitu banyak menjerumuskan kaum terpelajar.
Dahulu ketika saya kuliah, masih diajarkan mata kuliah filsafat ilmu pengetahuan, walaupun saya berstudi dalam bidang teknik. Dari sinilah terlihat paradigma ilmu yang dipakai. Tapi yang saya tahu mata kuliah tersebut sudah dihapuskan. Walaupun tidak dapat digunakan sebagai dasar generalisasi tapi bisa dilihat bahwa nilai atau paradigma yang dianut suatu ilmu sudah bukan menjadi hal penting bagi instansi pendidikan (khususnya tempat saya kuliah). Sehingga mahasiswa dianggap tidak perlu " dipaksa" untuk tahu. Hanya cukup dilatih mengambil manfaat dari apa yang dipelajari.
Pengambilan asumsi ketidak pentingan paradigma suatu ilmu, bukan tanpa resiko. Sehingga kita bisa dengan tenang menganggap diri kita orang yang netral dan berposisi aman. Tapi ketika ketidak pedulian itu dilaksanakan apalagi di level institusi resmi maka saat itu juga kita sudah menjadi pelengkap penderita dari paradigma ilmu itu sendiri.
Ketidak tahuan akan paradigma ilmu secara langsung maupun tidak mempengaruhi cara berpikir kita sampai pada tingkat mendasar. Secara tidak sadar membentuk pola perilaku, skala prioritas, cara berpikir, dan tujuan hidup.
Mainstream paradigma ilmu yang dianut paling tidak mempunyai dua unsur : materialistik dan atheistik. Yang pertama ilmu yang dihasilkan berpijak pada kebendaan atau fisik, kita kenal macam-macamnya fisika, kimia, biologi, dan variasai penggabungan dari ketiga itu. Ilmu ini yang biasa disebut natural sciencens atau ilmu alam. Bertolak dari pandangan manusia bahwa alam ini tersusun dari atom-atom yang mempunyai konfigurasi tertentu, berinteraksi secara terus-menerus sehingga menghasilkan benda-benda yang bisa kita serap dengan panca indera. Dari ilmu alam dicapailah perkembangan peradaban seperti sekarang.
Tetapi paradigma kebendaan menghasilkan peradaban yang timpang, dimana lama-kelamaan tidak hanya alam yang diperlakukan sebagai benda tetapi manusia juga dipandang hanya sebagai benda. Manusia menurut ilmu alam hanya merupakan sekumpulan atom-atom yang membentuk struktur biologis, tidak lebih dari itu. Inilah awal dekadensi akibat dari paradigma ilmu materialistik.
Disini manusia dinilai berdasarkan parameter material. Dikatakan terhormat bila paling banyak menguasai materi. Ciri khas dari peradaban seperti ini adalah tujuan hidup setiap individu tidak lepas dari pencapaian keduniaan. Maka setiap usaha yang dilakukan adalah tangga bagi pencapaian dunia, baik dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, bahkan agama sering kali dijadikan alat kapitalisasi.
Diakui atau tidak prinsip materialistik sudah menjadi dasar pijakan pembangunan peradaban manusia modern. Paradigma ini disebarkan terutama lewat kaum cerdik cendikia, melalui sistem pendidikan, kurikulum, media massa, pembentukan cara berpikir, seminar-seminar, textbooks, dan lain-lain.
Yang akhirnya mentransformasikan dari sekedar meterialistik menjadi paradigma atheistik. Atheistik disini tidak hanya orang tidak percaya tuhan, tetapi orang yang mempercayai tuhan pun dalam prakteknya juga atheis.
Karena sudut pandangnya meteri, maka yang selain materi tidak diakui. Ciri khas materi adalah yang bisa diserap oleh panca indera atau alat bantu pengukuran. Sementara tuhan tidak bisa dipandang secara materi. Sehingga tuhan tidak bisa diserap panca indera. Jika tidak bisa diindera berarti tuhan tidak bisa diteliti, kalau tidak bisa diteliti berarti tuhan tidak bisa disimpulkan. Kalau tidak ada kesimpulan berarti tuhan tidak ada.
Itu implikasi atheis murni. Berbeda halnya implikasi paradigma materialistik bagi orang yang beragama atau mengaku bertuhan. Tuhan tidak lantas tidak diakui. Tetapi tuhan hanya dijadikan alat kapitalisasi. Tugas tuhan yang utama adalah mengabulkan setiap kencenderungan materialistik bagi manusia. Tidak penting gagasan tuhan mengenai tujuan hidup, cara berpikir, skala prioritas, dan lain-lain.
Tuhan dipandang sebagai entitas yang tugasnya adalah menuruti keinginan manusia. Sehingga nilai-nilai dan gagasan dari tuhan tidak pernah dianggap, dipahami, apalagi dilaksanakan. Tuhan sudah "diperalat" dengan paradigma ilmu materialistik oleh manusia yang mengaku bertuhan.
Ini adalah salah satu contoh pendidikan yang membodohkan.
Haris Aribowo
