Pendapat mayoritas ulama yang menyatakan keharusan mengamalkan rukhshah dengan alasan :
1. Sesuai dengan karakterisitik Islam yang mudah dan tidak memberatkan.
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al Baqarah: 185).
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu.” (Al Maidah: 6).
2. Rukhshah merupakan shadaqah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menerimanya
Diriwayatkan oleh Ya’la bin Umayyah ia bertanya kepada Umar bin Khatab tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqasar salat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu. (an-Nisaa/4:101). Dan sekarang kita sudah aman. (tidak perlu qashar).
Umar bin Khatab berkata:
عجب مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ ، فَسَأَلْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم عَنْ ذَلِكَ . فَقَالَ : صَدَقَةٌ تَصَدَّقُ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ ، فَاقْبَلُوْا صَدَقَتُهُ .
Saya juga heran sebagaimana anda heran dan saya bertanya kepada Rasulullah masalah itu dan bersabda, ”Shadaqah yang diberikan oleh Allah kepadamu dan terimalah shadaqah-Nya”.
3. Karena itu merupakan shadaqah dari-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala senang kalau shadaqah-Nya diamalkan oleh hamba-Nya
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِىَ رُخْصَهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَّتَهُ .
Sesungguhnya Allah Senang untuk diambil keringanan-Nya, sebagaimana Dia senang di tinggalkan maksiat kepada-Nya.
[HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah].
4. Rasulullah saw sendiri sebagai teladan kita selalu mengambil dan mengamalkan sesuatu yang paling mudah
Diriwayatkan oleh Aisyah ra, ia berkata :
مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
“Tidaklah Rasulullah saw dipilihkan antar dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah dari keduanya, selama itu bukan dosa, jika itu dosa, maka beliau manusia yang paling jauh dari dosa.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
