![]() | |
| Tempat penantian |
~ Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahaba-sahabat yang lain.
~ Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
~ Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur,
~ namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
~ Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rosulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.
~ Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RosululLah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa.
~ Nabi pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.
~ Namun tak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA.
~ Sholat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA.
~ Namun yang ditunggu belum juga datang.
~ Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
~ Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
~ Namun tak ada seorang pun yang menjawab.
~ Nabi bertanya lagi apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban RA.
~ Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis dimana rumah Sya’ban RA.
~ Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.
~ Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
~ Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).
~ Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam.
~ Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
~ “Benarkah ini rumah Sya’ban?” Nabi bertanya.
~ “Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut.
~ “Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?”
~ Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
~ “Beliau telah meninggal tadi pagi..."
~ InnaaliLahi wainna ilaihiroojiun… Maa sya Allah, satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.
~ Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rosul
~ “ Ya Rosul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua,
~ yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.
~ Kami semua tidak paham apa maksudnya."
~ “Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rosul.
~ Di masing-masing teriakannya dia berucap kalimat:
~ “ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
~ “ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
~ “ Aduuuh kenapa tidak semua……”
~ Nabi pun melantunkan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :
~ “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“
~ Saat Sya’ban dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah.
~ Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.
~ Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
~ Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.
~ Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat.
~ Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkah nya ke Masjid.
~ Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.
~ Saat melihat itu dia berucap:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
~ Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.
~ Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
~ Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
~ Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya.
~ Jadi dia memakai dua buah baju.
~ Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
~ Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar. ~ Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan sholat dengan baju yang lebih bagus.
~ Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan.
~ Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
~ Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
~ Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
~ Kemudian dia berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru...“
~ Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.
~ Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
~ Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengn cara mencelupkan dulu ke segelas susu.
~ Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberi sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
~ Melihat hal tersebut. Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
~ Kemudian mereka makan bersama-sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan porsi yang sama.
~ Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yang indah.
~ Demi melihat itu diapun berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
~ Sya’ban kembali menyesal.
~ Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yang lebih indah.
~ Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal.
~ Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda,
~ bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
~ Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
~ Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.
~ Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:
~ “Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”
~ “Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam.”
~ “Dua rokaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.”
~ Namun lihatlah... masjid tetap saja lengang. Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah.
Mengapa demikian?
~ Karena apa yang dijanjikan Allah itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.
~ Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
~ Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah tidak pernah meleset.
~ Allah akan membuka hijab itu pada saatnya. Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan.
~ Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah tersebut.
~ Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
~ Namun penyesalannya bukanlah karena tidak menjalankan perintah Allah SWT.
_~ Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dengan optimal......?
