Laju perkembangan peradaban
seakan-akan sudah tidak bisa terbendung lagi. Jika dilihat dari sudut pandang
ilmu fisika sudah bukan lagi gerak lurus beraturan (glb) tetapi sudah gerak
lurus berubah beraturan (glbb) atau lebih tepatnya gerak ke segela arah berubah
tidak beraturan (gksabtb). Tentu yang terakhir itu istilah karangan saya
sendiri. Karena perkembangan peradaban tidaklah linier.
Probalitasnya sangat tinggi meskipun
semangatnya tetap sama. Yaitu semangat pembangunan dan pencapaian fisik. Dalam
glbb terjadi perbuhan kecepatan atau percepatan entah semakin lambat atau
semakin cepat, tetapi memiliki keteraturan irama di mana tidak ada perubahan
yang mendadak.
Berbeda dengan laju peradaban
mutakhir ini, memang ada perbuhan kecepatan tetapi saling bertolak belakang.
Ada yang semakin cepat tapi secara simultan juga semakin lambat maka saya sebut
tidak beraturan.
Peradaban itu suatu keutuhan. Dia
tidak bisa dipandang secara sepotong-sepotong. Bukan gedung-gendung yang
menjulang tinggi, bukan alat-alat komunikasi yang semakin banyak macamnya,
bukan semakin canggihnya metode eksploitasi alam, bukan hanya kemajuan dalam
bidang teknologi saja peradaban tersusun.
Bahkan bila dilihat dari akar katanya
peradaban berasal dari kata adab. Ciri beradab terletak pada perilaku dan
pikiran manusia. Pencapaian materiil hanyalah salah satu resonansi dari nilai
beradabnya manusia.
Dari sudut pandang kebendaan manusia
memang mengalami kemjuan luar biasa. Teknolgi terus dipacu kreasinya, ilmu-ilmu
terus digeluti dan dikembangkan, pembangunan fasilitas penunjang kenyamanan dan
pemasok keuntungan menjadi ideologi dan cita-cita setiap individu bahkan sudah
sampai level negara. Manusia diujung bumi yang satu dengan manusia diujung bumi
yang lain sudah seperti tidak berjarak.
Arus komunikasi dengan kecepatan
seper sekian detik menambah lajunya perkembangan peradaban dari sisi kebendaan.
Tapi saking sibuknya membangun infrakstrutur fisik, manusia lupa dengan
kemanusiaannya. Manusia lupa bahwa sumber peradaban adalah dirinya sendiri.
Terlalu terpaku dengan yang di luar diri akhirnya lupa membangun diri.
Absennya manusia dari meperadabkan
dirinya itulah yang mebuat ketidak teraturan kemajuan. Katakanlah peradaban itu
suatu entitas utuh, salah satu bagiannnya dengan seenaknya melaju dengan sangat
kencangnya dan tidak terkendali sedangkan bagian lainnya karena tidak punya
energi untuk menyusul yang sangat cepat tersebut akhirnya tertinggal.
Karena satu entitas atau satu
gumpalan utuh maka peristiwa ketertinggalannya bukan hanya sekedar
meninggalkan. Tetapi ada peristiwa gesekan, ada peristiwa pemelaran, dan
berakhir pada sobeknya keutuhan peradaban.
Sehingga sobekan yang melaju kencang tadi sudah tidak bisa diebut peradaban.
Dia hanya bagian dari peradaban. Sementara bagian yan tertinggal lambat laun
akan berhenti dan akhirnya musnah.
Gesekan, pemelaran, dan penyobekan
inilah yang mengakibatkan banjir bandang peradaban. Sebagai pelaku perubahan,
manusia ternyata tidak siap terhadapad konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
Seperti banjir bandang yang menerjang dan memporak-porandakan infrastruktur,
kemajuan dalam bidang tertentu ternyata juga berakibat sama dengan banjir
bandang.
Semacam senjata makan tuan, laju
pembangunan dalam skala dan kecepatan tinggi menerjang infrastruktur
kemanusiaan. Memporak porandakan tata nilai yang seharusnya menjadi tiang-tiang
penyangga kehidupan. Keadilan menjadi salah satu korban banjir. Dari
keadilanlah timbul kemaslahatan bersama. Ketika kemaslahatan bersama tercapai,
nilai-nilai kemanusian yang lain pun dengan sendirinya terwujud, seperti
toleransi, gotong royong, persatuan, dan perdamaian karena harkat martabat
manusia sudah terpenuhi terlebih dahulu.
Namun keadilan sudah digilas oleh
kemajuan. Kedilan bukan visi dari pembangunan. Akibatnya adalah saling tidak
percaya satu sama lain, karena tidak ada jaminan mendapat keadilan. Yang ada
hanyalah setiap orang mengawal kepentingannya sendiri. Setiap manusisa berjuang
untuk kemajuan hidupnya sendiri. Itupun kemajuan dalam arti materi dan
kekuasaan. Saling menginjak kepala saudaranya menjadi pemandangan lazim. Sebab
hanya dengan itulah ambisi bisa dicapai.
Orang yang sudah terlanjur terinjak
sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan yang menginjak sebisa mungkin terus
menghimpun kekuatan untuk melanjut penginjakannya. Kesengsaraan menjadi berita
sehari-sehari.
Anehnya biarpun sudah separah itu
tingkat kerusakannya, manusia tetap tidak pernah menyadari. Memang
karakteristik banjir bandang peradaban agak berbeda dengan banjir air. Kalau
banjir air, bendanya jelas, bisa dirasakan, orang-orang akan cepat sadar ketika
air sudah sampai menggenangi rumah. Orang-orang akan cepat-cepat melakukan
evakuasi baik dirinya, keluarganya, atau kalau masih mungkin hartanya.
Sementara banjir bandang yang melanda peradaban mengalir dalam kesunyian.
Arusnya sangat kuat tapi jangan harap bisa dilhiat dengan mata kepala.
Daya jangkaunya sangat luas tidak
mengenal medan. Jika air itu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah dan
yang lebih lapang. Itu tidak berlakuk bagi banjir model ini. Dia mempunyai
kelincahan bergerak dan dapat menelusup ke ruang-ruang sempit. Begitu halusnya,
dia mampu meresap ke relung hati manusia dan memang itulah sasaran utamanya.
Hal inilah yang menyebabkan manusia
tidak cepat tanggap menghadapinya. Reaksinya lambat. Mungkin manusia akan sadar
kalau sudah benar-benar hancur secara fisik maupun secara kemanusiaan. Disaat
yang menyengsarakan dan yang disengsarakan sudah sama-sama tergeletak tidak
berdaya.
Haris Aribowo
