Hidup yang sangat luas ini berisi
batas-batas. Boleh dikatakan batas adalah syarat yang harus kita terima untuk
menjalani kehidupan. Coba bayangkan hidup tanpa batas. Atau coba cari apa saja
yang ada di dunia ini yang bukan batas.
Tubuh manusia itu batas. Panjangnya
tertentu, ukurannya tertentu, jumlahnya tertentu, apa itu namanya kalau bukan
batas? Misalkan tubuhmu melanggar batas, panjang tanganmu melebihi panjang
badan dan kaki, nyamankah kamu hidup? Telingamu melanggar batas, harusnya dua
malah tiga, yang ketiga mau di tauh mana? Batas memberikan bentuk, karakter,
identitas, menentukan fungsi, menyelaraskan gerak, memberikan keselamatan.
Pengetahuan mengenai batas menjadi
begitu penting bagi pelaku kehidupan, khususnya manusia. Kalau yang selain manusia
(mungkin tambah satu lagi yaitu jin) tidak usah diragukan pasti tidak akan
berani melanggar batas. Semua tunduk kepada aturan Allah.
Tidak pernah ada yang berani
membantah. Belum pernah dengar saya bahwa bumi lelah berputar sehingga
tiba-tiba berhenti. Gravitasi sudah bosan menarik benda-benda akhirnya kita
semua terbang ke atas. Semuanya taat tidak pernah membantah sedetik pun. Beda
dengan mahluk yang bernama manusia, padahal sudah disertifikasi mahluk yang
ahsani takwim, mahluk sempurna, karya paling monumental Allah SWT. Tapi pada
prakteknya bisa dan sering melanggar batas.
Atau mungkin dikatakan sempurna
karena bisa dengan seenaknya melanggar batas? Ya mungkin iya mungkin tidak.
Perlu perenungan dan pencarian yang lebih dalam dan luas mengenai hal itu.
Sementara selain manusia mau tidak
mau harus taat, manusia sendiri diberi sedikit kebebasan untuk taat atau tidak
taat. Untuk kufur atau beriman, membuat perbaikan atau melakukan kerusakan,
menjalin dan menyatukan yang pecah-pecah, atau malah memecah-mecah yang sudah
terjalin. Disnilah letak superioritas manusia diantara mahluk lain. Maka akal
menjadi solusi bagi kebebasan ini. Diberi akal supaya manusia mendaya
gunakannya dengan maksimal sehingga mengerti tentang batas.
Memahami pentingya batas, fungsi
batas, agar dapat mengelola kebebasannya menjadi sesuatu yang menyelamatkan
dirinya, orang lain, dan sekitarnya. Ketika sudah sampai pada level tersebutlah
manusia diberi gelar Khalifatullah, wakilnya Allah di muka bumi untuk mengelola
segala potensi yang sudah Allah berikan menjedi keselamatan untuk semua.
Maka batas tidak bisa dianggap remeh
apalagi dimusuhi. Sering kita menganggap bahwa batas itu mengekang, memperdaya,
menjadi penghalang dan dianggap musuh kemerdekaan atau kebebasan. Inilah awal
mula kehancuran. Manusia sudah mulai ingin melanggar batas. Didorong oleh
syahwat dan didukung dengan kelalaian atau ketidak siapan mengelola potensinya.
Andaikan itu benar-benar terjadi, sebenarnya manusia juga tidak pernah
melanggar batas karena tidak ada kehidupan tanpa batas. Yang dilakukan
sebenarnya adalah membuat batas-batas sendiri yang batas-batas itu keluar dari
batas yang sudah diberikan oleh Allah.
Contohnya makan, kita dibatasi oleh
kapasitas perut. Melanggar batas dalam makan tidak hanya melanggar batas
kapasitas perut tetapi melakukan kegiatan makan dengan tidak mempertimbangkan
sebab dan akibat. Tidak ada perhitungan kapan harus makan, kapan harus
berhenti, makannya apa, sebera sering makan, berapa kali makan, dan seterusnya.
Dengan kata lain kita seenaknya
sendiri membuat batas-batas yang sebenarnya batas-batas itu tidak kompatibel
dengan kita. Akhirnya timbullah berbagai macam penyakit, dan
kehancuran-kehancuran lain karena tidak tepatnya batas yang kita pilih. Tidak
hanya soal makan, ini bisa disimulasikan dalam ranah apapun, dari mulai
individu sampai negera.
Mungkin itu sebabnya Allah dalam
Al-Quran mengandaikan orang yang zalim adalah orang-orang yang melanggar atau
melampaui batas.
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada
manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab
yang pedih. (QS Asy Syuura, Ayat 42)
Batas bukanlah musuh kebebasan.
Bahkan batas adalah syarat untuk mengendarai kebebasan dengan selamat. Batas
dan kebebasan ibarat mesin dan bahan bakar. Yang bisa menggerakkan mesin
kebebasan adalah bahan bakar pemahaman batas. Pertentangan yang sering kita
temukan antara batas dengan kebebasan disebabkan tidak seimbangnya pemahaman
mengenai batas itu sendiri.
Manusia terlalu sombong untuk
mengakui bahwa dirinya hidup dalam batas, tidak bisa lari dari batas,
terabatas. Batas itu menelusup dalam segala aspek kehidupan. Kenikmatanpun,
yang oleh sebagian manusia dijadikan tujuan hidup saja, baru bisa dinikmati
kalau batasnya jelas. Kita ambil contoh lagi mengenai makan. Makan itu ketika
lapar. Bayangkan kalau lapar tiada berbatas, bisakah kita merasakan nikmatnya
kenyang?
Yang ada kita akan makan terus tanpa
pernah berhenti, tanpa pernah ketemu kenikmatan yang namanya kenyang. Maka
jangan salah sangka dulu terhadap batas. Batas itu harus kita jaga, kita
pahami, dan kita tentukan setepat mungkin karena akan berpengaruh pada
kehidupan kita.
Haris Aribowo
