“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)
Dalam melihat persoalan di dunia entah apa pun itu, Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil. Bukan dengan tendensi kepentingan pribadi atau kelompok tetapi dengan titik berat pada apa yang benar menurut Allah.
Kesetiaan terhadap kebenaran adalah ciri orang-orang yang beriman. Maka pemahaman tentang apa yang benar adalah salah satu syarat keimanan. Tentu saja kebenaran itu bukan perkara yang mudah. Kebenaran bisa menjadi kabur mana kala pandangan keimanan seseorang tidak tajam. Disininalah dibutuhkan dialektika anatar akal dan hati.
Akal sebagai regulator yang memutuskan sesuatu itu benar atau tidak, sementara hati sebagai sensor yang dapat mempertajam penilaian akal. Keduanya saling ulang alik berinteraksi sehingga kebenaran dapat ditegakkan.
Lalu apa kebenaran itu? Benar bisa sangat relatif pemaknaannya. Bagi prespektif ilmu benar adalah suatu kesimpulan yang diambil dari cara atau langkah-langkah berpikir yang konsisten dan tidak bertentangan. Ilmu yang mempelajarinya adalah logika (istilah yunani) atau mantiq (istilah arab). Logika/mantiq mempelajari cara berpikir yang akan menghasilkan apa yang disebut benar.
Tapi ini belum cukup. Karena yang diandalkan dalam logika/mantiq masih sebatas benar secara materiil-sensori, artinya menggunakan titik berat kebendaan dan persepsi panca indera untuk memverifikasi apa yang benar.
Berapa banyak kita saksikan dengan hanya mengandalkan logika/mantiq masih juga manusia tersesat.
Kita masih harus bergantung pada hidayah Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril yang ditebarkan kepada manusia. Tanpa hidayah Allah masih ada kemungkinan kita akan tersesat. Itulah sebabnya setiap hari minimal 17 kali kita memohon ditunjuki jalan yang lurus. Jalan lurus adalah simbolisme dari petunjuk Ilahiah.
Hidayahlah yang Membuat logika/mantiq yang kita gunakan dapat mengatasi keterbatasannya. Sehingga tercapai yang disebut logika transenden / mantiq ilahiah. Transenden dalam arti melampaui pandangan materiil sensori yang hanya bisa dicapai dengab bantuan hidayah dari Allah. Logika transenden/mantiq ilahiah adalah cara berpikir yang diperkuat oleh energi hidayah Allah.
Dengan kebenaran akan terciptalah keadilan. Keadilan adalah sikap manusia yang menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya. Tentu saja ketepatan yang juga sesuai dengan kehendak Allah.
Pada ayat diatas Allah juga memperingatkan manusia tentang fenomena yang akan mengahalanginya untuk berbuat adil. Yaitu kebencian.
Kebencian adalah hijab yang akan menghalangi manusia dari berpikir jernih dan adil sehingga tidak akan mungkin tercapai kesimpulan yang benar. Jika kebencian ini terus menerus dipupuk oleh manusia maka lama-kelamaan hatinya menjadi keras. Hati yang keras menghalangi pancaran hidayah yang diturunkan Allah. Maka dengan kebencian ketidak adilan yang menang. Kezaliman yang terus berputar menghasilkan kebencian baru dan kezaliman baru.
Bahkan kepada orang kafir pun manusia beriman tetap dituntut setia kepada keadilan, setia kepada kebenaran, menggunakan logika transrenden. Dengan berbuat adil kepada siapa pun, manusia akan mencapai maqam takwa.
Karena hanya dengan kebenaran, keadilan akan tercapai dan keselamatan bersama terwujud (islam).
