Ibarat balon udara manusia itu balonnya, udara itu kemanusiaanya. Balon baru dikatakan benar-benar balon kalau ada udara didalamnya. Baru bisa berfungsi sebagai balon kalau sudah terisi udara. Balon yang tak berudara atau bocor, seperti manusia tanpa kemanusiaan. Kelihatannya saja balon tapi tidak berfungsi layaknya balon, kelihatannya saja manusia tapi tingkahnya tidak menunjukkan bahwa dia manusia.
Jika balon beriisi udara diberi tekanan dari luar, lama-lama kulit balon tidak akan kuat menahan tekanan, kalau sudah sampai titik kritis balon akan pecah, udara akan keluar, balon kempes, balon sudah bukan balon lagi.
Begitu juga manusia, jika penindasan berlangsung terus-menerus, lama-lama pecah manusia, menguap kemanusiaannya. Hilangnya kemanusiaan ini yang disebut dekadensi moral, saling bunuh, mudah marah, bentrok, tidak percaya satu dengan yang lain, sikut kanan kiri, kriminalitas, korupsi, yang jika disebutkan satu-satu tidak akan selesai tulisan ini.
Hari-hari sekarang ini sering sekali ada pertunjukan menguapnya kemanusiaan. Berita di media masa hampir 80% isinya tentang balon pecah. Ada apa gerangan dengan manusia? Kemana perginya kemanusiaan?
Apa mungkin ini realisasi dari firman Tuhan
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)
Tidak ada balon yang pecah kecuali ditekan atau sengaja dibocorkan. Mungkin itu juga yang terjadi pada manusia. Tidak akan menguap kemanusiaannya kalau tidak karena penindasan yang bertubi-tubi, pemiskinan struktural, pembodohan sistematis, pemaksaan penyuntikan narkotika kebudayaan, keterancaman, yang sekali lagi tidak akan selesai tulisan ini kalau disebutkan satu-satu. Banyak sekali bentuk penindasan yang terjadi pada manusia akhir-akhir ini.
"Ah yang bener..?" Mungkin ada yang dalam hatinya bergumam seperti itu ketika membaca tulisan ini. Memang apanya yang tertindas. Zaman terus bergulir, teknologi semakin maju, tambah banyak yang bisa sekolah, hampir semua orang punya handphone bahkan ada yang mengatakan jumlah handphone di Indonesia itu 2 kali lipat jumlah penduduknya, mal tambah banyak, transportasi makin mudah, pengajian jangan ditanya rata-rata tidak ada masjid yang tidak mengadakan pengajian. Maksudnya apa penindasan. Berita di media? Dari dulu kan sudah terjadi pencurian, pembunuhan, tawuran, its nothing special about that!!
Disini kita perlu menjernihkan pikiran. Memperbaiki parameter untuk menilai suatu kamajuan dan menguraikan apa penindasan.
Kemajuan biasa diartikan secara sederhana hari ini lebih baik dari kemarin. Menyongsong kemajuan berarti melakukan usaha-usaha agar besok bisa lebih baik dari hari ini. Masalahnya adalah parameter lebih baiknya itu. Bagi kebanyakan mainstream parameter lebih baik adalah penghasilan bertambah, gedung lebih tinggi dari yang lalu, kendaraan lebih cepat dari yang kemarin. Bisa dirangkum dalam satu kalimat, bertambahnya pencapaian materiil.
dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta ( Al Adiyat, 8)
Jadi biarpun kemanusiaan berada pada titik nadir, its fine.., yang penting materi tambah banyak. Apa benar hidup itu cuma urusan karier, penghasilan, pencapaian, kedudukan, harta..? Salah parameter, berakibat salah penilaian, salah paham, akhirnya salah pencapaian.
Yang harusnya manusia itu wakil Tuhan di bumi, diberi nikmat yang namanya akal, dikasih wewenang pengelolaan sumber daya seluas-luasnya. Bahkan Allah menundukkannya untuk manusia.
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 32-34)
Yang seharusnya dengan potensi dan fasilitas itu manusia berusaha merealisasikan sifat-sifat ilahiah, rahman, rahim, adil, ilmu, sabar, syukur, dll.
Bukan sebaliknya memanfaatkan titipan Tuhan untuk melampiaskan keinginan keinginan yang tidak compatible dengan kehendak-Nya. Akibatnta terjadilah penindasan-penindasan. Entah manusia menindas manusia lain pada level individu atau kelompok. Atau manusia menindas dirinya sendiri dengan cara tidak mau menyatukan kehendaknya dengan iradah Allah. Jadi jangan heran kalau yang terjadi adalah eskapis-eskapis kemanusiaan.
Inilah yang disebut eskapis (pelarian). Udara di dalam balon yang sudah tidak tahan lagi atas tekanan, dengan potensinya menjebol kulit balon untuk mencari jalan keluar (pelarian) dari tekanan yang menjemukan. Kemanusiaan merasa jijik, benci, anti pati dengan penindasan. Karena fitrahnya yang suci sehingga dia tidak betah lama-lama bergaul dengan penindasan. Akhirnya sudah tidak ada jalan lain kecuali memberontak, menjebol dinding yang ada di dekatnya untuk segara keluar dari penindasan.
Hari-hari ini semakin banya saja kamunisaan yang menguap. Hingga langit dipenuhi oleh uap-uap suci kemanusiaan yang sudah tidak betah tinggal di bumi. Mereka menunggu antrian untuk mengadu kepada kekasih.
" wahai Pencipta apa benar untuk ini kamu diciptakan, apa benar seperti inilah seharusnya kami, apa benar ini semua perintah-Mu? Hamba sudah tidak kuat lagi ya Tuhan"
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).
