Seorang rasul yang membacakan kepada kalian
ayat-ayat Allah yang menerangkan supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan
barang siapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Dia akan
memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya abadi. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik
kepadanya. (QS AT-TALAQ, ayat 11)
Kecuali jalan neraka Jahanam kekal mereka di
dalamnya abadi. Dan yang demikian itu bagi Allah mudah. (QS AN NISA, ayat 169)
Mau pilih yang
mana terserah, itu hak masing-masing. Dalam hal ini Allah sangat demokratis,
mau iman ya berimanlah, mau kufur ya kufurlah dengan resiko masing-masing.
Pastinya kita tidak bisa mengelak dari yang dua itu, memang besok-besok mau
ngekos di mana, ngontrak ke siapa, kalau bukan kembali ke yang sejati karena
sesungguhnya tidak pernah ada yang benar-benar ada kecuali Allah. Rentangan
yang dibuat Allah tidak tanggung-tanggung, sangat lama sehingga dikatakan abadi
dan sangat tidak bisa diganggu gugat sehingga dikatakan kekal.
Promblemnya
sekarang adalah manusia sendiri punya tidak daya imajinasi untuk sekedar
membayangkan bahwa sebenarnya hidup ini kekal dan abadi? Ada pepatah mengatakan
“hidup cuma satu kali”. Perkataan ini kelihatan sepele tapi sebenarnya punya
arti yang mendalam, walaupun kensekuensi dari arti tersebut bisa sangat
menyelamatkan tapi juga bisa sangat menyesatkan. Maknanya hidup cuma sekali
dalam arti yang sempit, parsial-fakultatif, adalah hidup yang hanya dibatasi
alam materi. Selagi masih bernafas, sel-sel masih menjalankan fungsi
metabolisme, panca indera masih terus menangkap informasi, itulah yang
dinamakan hidup.
Dengan demikian
orang memandang hidup yang hanya sekali dari prespektif tersebut cenderung
materialistis. Pencapain hidup adalah kebendaan dan apa saja yang bisa
dinikmati dengan panca indera. Cara mencapainya macam-macam, dari yang
bersahaja sampai yang paling hina. Yang penting sebelum hidup selesai harus
sudah mencicipi semua kalau perlu anak cucunya juga bisa kecipratan. Karena
terbatas waktu hidup yang seperti itu akhirnya waktunya habis hanya untuk
ngurusi pencapaiannya tadi, yang ada dipikrannya adalah bagaimana caranya
sebelum mati sudah qataman materi, sudah senang-senang, foya-foya. Inilah arus
peradaban kita saat ini, kita digiring kepda tujuan kebendaan, pengertian kita
mengenai hidup dibatasi, dipersempit menjadi panca indera-sentris,
syahwat-sentris.
Coba direnungkan
betul-betul, amati pergolakan di dunia, baik yang sifatnya individu, kelompok,
sampai ke skala nasional bahkan multi-nasional. Bayangkan berjuta-juta orang
tiap harinya bergerak atas dasar kebendaan, berperang, menjilat, merayu
sana-sini, bersekongkol melakukan perampokan internasional, penjajahan sumber
daya alam dan lain-lain. Akhirnya apa? Akhirnya ya cuma sekedar materi,
penumpukan modal, pemenuhan syahwat, yang jelas-jelas kalau itu tidak pernah
direm pasti nantinya cepat atau lambat akan menabrak batas-batas. Begitu
menyesatkannya alam berfikir semacam ini.
Beda lagi kalau
kita pandang hidup yang sekali itu dalam arti sekalinya hidup tidak bisa tidak
wajib kekal dan abadi. Pandangan ini tidak membatasi pengertian hidup hanya
jika bernafas dan berfungsinya panca indera. Hidup lebih dari itu.
Konsekuensinya adalah apapun yang akan kita lakukan, dasar perhitungannya
adalah kekekalan dengan jangka watu keabadian.
Maksudnya kita
tidak akan serampangan saja berperilaku, karena apa pun berpuatan kita adalah
bekal menuju kekekalan dan keabadian. Bukan berarti menafikkan fungsi materi,
tetapi lebih kepada menimbang kembali secara lebih cermat, hal-hal apa yang
bisa kita lakukan dengan materi itu yang lebih menyelematkan diri sendiri dan
sesama, dalam skala terkecil hingga paling kosmos.
Kalau anda
memamdang hidup dengan cara yang pertama, saran saya, mohon ditinjau kembali
keputusan itu. Konsekuensinya tidak main-main. Pengaruhnya nanti merembet
kemana-mana. Dari mulai tujuan hidup, cara menjalani hidup, konsep tentang
batas, dan masih banyak lagi. Satu hal yang bisa dipastikan adalah ketika
manusia sudah melanggar batas-batas sunnatullah, bukan kebahagian yang didapat
tapi yang didapat adalah kehancuran.
Haris Aribowo
