Kalimat syahadat tidak hanya bersifat subtantif-esensial tetapi juga mengandung metodologi. Dengan syahadat maka segala konstruksi berpikir dan berperilaku manusia diformat untuk selanjutnya mempunyai frekuensi yang sama dengan kehendak Allah.
Setelah penyamaan frekuensi dengan iradah Ilahi itu maka akan dapat meresonansi alam sekitarnya. Fenomena ini disebut dengan idiom rahmatan lil alamin. Alam pun merasakan getaran dan resonansi dari manusia yang bersyahadat.
Makna penyamaan frekuensi tersebut adalah apa yang kita sebut Tauhid. Tidak hanya bermakna peng-esa-an Allah tetapi lebih dari itu Tauhid menjadi sebuah rujukan utama. Ketika manusia bertauhid kepada Allah maka sudah tidak ada yang lain lagi entah itu kekuasaan, kekayaan, kesaktian, keilmuan kecuali semua itu berasal dari Allah. Karena salah satu konsekuensi dari tauhid adalah meyakini bahwa tidak ada daya upaya kecuali milik Allah (wala quata illa billah). Daya upaya bisa bermakna sangat luas, mencakup segala apa pun yang ada di dunia.
Konsep ini menuntun manusia menyelami tugasnya sebagai reprenstasi Allah di bumi (khalifatullah fil alrd). Sesudah itu mulailah manusia tauhid ini mencari dengan potensi akal, hati, dan fisiknya perbuatan apa saja yang akan menopang kepercayaannya itu.
Dengan petunjuk yang diberikan Allah melalui utusannya yaitu agama dan hasil karya manusia atau biasa disebut budaya. Manusia dibantu dengan potensi akal, hati, dan fisik membentuk suatu harmoni yang berujung manfaat bagi yang lain.
Sehingga semua manfaat yang ditimbulkan oleh manusia bertauhid tidak lain adalah sebuah resonansi dari tuahid itu sendiri.
Ingat hadis nabi yang intinya adalah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.
Tauhid yang dijalankannya mempunyai daya pancar seperti cahaya yang menembus kegelapan. Jika orang ini adalah penguasa, kekuasaanya akan menjadi sebab keamanan seluruh manusia, jika orang ini adalah orang kaya, kekeyaannya menjadi sebab kesejahteraan seluruh manusia, jika orang ini adalah ulama, ilmunya menjadi sebab terbukanya intelektualitas seluruh manusia. Dan masih banyak lagi.
Itu semua tidak lain adalah resonansi tauhid.