@ Ber -
Niat
[ Maz. Abri ]
Berbincang
tentang Innamal A’malu Biiniyat, maka kita akan berbincang tentang
adanya rasa yang ada dihati serta laku yang ada didalam perbuatan. Dan kata
ikhlas menjadi nilai yang penting didalamnya, karena berikhlas tanpa
menghadirkan niat yang benar dalam setiap berbakti kepada-Nya maka nilai itu
tak ada artinya dimata-Nya.
Ada
riwayat hadist, Amir Mukminin Abu Hafsh Umar Bin Khatab ra. Berkata, Aku
mendengar Rasulullah bersabda: “ Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan
setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang dinatkan. Barang siapa berhijrah
karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya. Dan barang
siapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi,
maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju ”.
Niat
juga merupakan ruh awal dalam menjalankan segala aktivitas, baik dalam
keseharian didunia ataupun ibadah didalamnya.
Dalam
hadis diatas Imam At – Thabrani meriwayatkan, bahwa ibnu Mas’ud berkata, “
Diantara kami ada seseorang laki – laki yang melamar seorang wanita, bernama
Ummu Qais. Namun, wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke madinah. Maka
laki – laki tersebut ikut hijrah dan menikahinya, karena itu kami memberinya
julukan Muhajir Ummu Qais “.
Karena
itu niat menjadi kunci pokok dalam nilai yang akan didapatkannya dalam
menjalankan segalanya, hingga nilai amal dan iman menjadi perekat hati dengan
sang pemilik hati, jika didalamnya ternaung wujud ikhlas dalam menjalaninya.
Niat
sendiri bertempat dihati, jadi tidak disyaratkan untuk diucapkan. Namun
demikian, boleh saja diucapkan jika untuk membantu berkonsentrasi dihati.
“ Karena niat tanpa amal akan diberi bahala, sementara alam tanpa niat akan sia – sia ”
Perumpamaan
niat bagi amal, ibarat ruh bagi jasad. Jasad tidak akan berfungsi jika tanpa
ruh, dan ruh tidak akan tampak jika terpisah dari jasad.
Sehingga
ikhlas dalam berniat untuk melakukan suatu hal sangatlah penting, karena
dengannya perbuatan dan ibadah akan mendapat pahala diakhirat serta kemudahan
dan kebahagiaan didunia.
Contoh,
ada seseorang yang berniat melakukan kebaikan, namun karena sesuatu hal ia
sakit kemudian ia tidak bisa melaksanakan, maka ia akan tetap mendapatkan
pahala dengan niatnya tersebut.
Oleh karen itu, Ketika seorang hamba
meniatkan amal lillahita’ala, maka ia akan menjaga niat itu, baik
sebelum ia berbuat amal, ketika ia berbuat amal sampai setelah ia berbuat amal.
Oleh karenanya niat yang terjaga dengan kebaikannya akan mengalir menjadi amal –
amal yang didapatkannya. Sehingga niat ikhlas karena Allah dalam ber amal
sangat perlu untuk dijaga.
Rasulullah juga bersabda: “Manusia
yang pertama kali diadili pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid,
lalu ia didatangkan dan diberitahukan kepadanya kenikmatanya sehingga ia pun
mengetahuinya. Lalu Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan didunia?”, ia
menjawab, “Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid”. Allah
berfirman, ”kamu berdusta, tapi kamu berperang agar disebut sebagai orang yang
berani, dan kamu telah disebut sebagai pemberani”. Maka diperintahkanlah agar
ia diseret diatas wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian seseorang yang mempelajari
ilmu dan mengajarkannya, juga membaca Al-Quran. Didatangkanlah ia dan
diberitahukan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya. Allah bertanya,”
Apa yang telah kamu perbuat didunia?” ia menjawab,” Aku telah mempelajari ilmu
dan mengajarkannya, juga membaca Al – Quran karena Engkau.” Allah berfirman,”
kamu dusta, tapi kamu mempelajari ilmu agar disebut sebagai alim serta membaca
Al-Quran agar disebut sebagai qari dan kamu telah disebut seperti itu. Maka
diperintahkan agar ia diseret diatas wajahnya dan dilemparkan kedalam neraka.
Kemudian seseorang yang diluaskan
rezekinya oleh Allah, dan dia memberinya dari beragam jenis harta, lalu
didatangkan dan diberitahukan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya.
Allah bertaya,” Apa yang telah kamu perbuat dengannya didunia? Ia menjawab,
“aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau senang jika didalamnya
diinfakkan harta, melaikna aku infaakkan (harta bedanku) dijalan-Mu”. Allah berfirman,
”kamu berdusta, tapi kamu melakukan hal itu agar kamu disebut sebagai orang
yang dermawan, dan kamu telah disebut seperti itu”. Maka diperintahkanlah agar
diseret diatas wajahnya dan dilemparkan kedalam neraka. (HR. Muslim)
Pentingnya menata niat, karenanya ia
merupakan pondasi amalan. Amalan kita akan diterima atau ditolak sesuai dengan
niat didalam hati, barang siapa melakukan kebaikan dengan keikhlasan untuk
Allah semata dan ingin pahala diakhirat serta sesuai dengan tuntunan, maka ia
akan diterima. Namun, jika kita meniatkan bukan selain Allah, tidak
mengikhlaskan karena-Nya, dengan menyekutukan-Nya, maka amalan itu akan
tertolak dan menjadi malapetaka untuk kita.
Untuk
itu, sebagai pemuda yang didalam hatinya terdapat segenggam iman, harus
mengerti hubungan antara niat, ikhlas dan iman. Jika kita berniat dalam
melakukan sesuatu dan didorong dengan nilai ikhlas maka nilai kebaikan yang
terlaku akan menjadikan segenggam iman yang ada dihati menjadi erat dan kokoh
bersama cinta-Nya.
=============================================================
# Niat
Segenggam rasa yang terpatri didalam jiwa
Membawa cinta, jika ia baik adanya
Pembawa cahaya bagi sang pemiliknya
Tetapi akan sebaliknya
Jika genggaman luput atas erat-Nya
Kan membawa duka, jika buruk adanya
Cahaya yang redup bahkan mati olehnya
Jaga ...!
karena didalamnya ada segenggam rasa yang indah karena-Nya
=============================================================
