Terjebak Menang Kalah



Belum jelas awal munculnya pengertian menang dan kalah. Manusia zaman apa yang mengawali atau bangsa mana yang merumuskan konsep menang dan kalah. Atau mungkin sudah dimulai sejak kasus pembunuhan pertama anak keturunan Adam as. Habil dan Qabil, dimana yang satu iri dengan yang lain. Tapi itu cuma spekulasi.

Yang jelas dewasa ini, urusan manusia abad 21 ini ya kalau tidak menang ya kalah. Pengertiannya luas. Dalam setiap sisi kehidupan selalu ada dua kata itu. Entah ekonomi, politik, sosial, pendidikan, bahkan dalam agama pun digunakan idiom menang dan kalah. Menang itu terhormat, bangga, bahagia, pokoknya segala-galanya. Kalah itu nista, minder, sengsara, kalau bisa jangan sampai kalah. Saking maniaknya dengan kemenangan dan saking bencinya dengan kekalahan, segala cara dilakukan guna meraih kemenangan. 

Tidak tanggung-tanggung apa yang dikorbankan untuk sekedar merasa menang. Dari yang memang dianggap legal seperti dalam pertandingan olahraga, pemain berlatih keras dan menyusun strategi secanggih mungkin, siang malam berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan lawan. Atau dengan cara yang dianggap curang, menipu, membunuh, dan lain-lain. Kebutuhan akan kemenangan sudah menjadi kebutuhan primer. Persis seperti makanan pokok. Kalau tidak makan "menang" rasanya tubuh jadi loyo, tidak ada gairah hidup, hidup bukan hidup kalau tidak menang. Bahkan ada yang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak pernah menang (kalah). Sebebarnya mahluk apa sih menang dan kalah itu? Sampai-sampai penduduk bumi ini rela bersusah payah mengejarnya.

Mungkin konsep menang kalah ini sudah bukan hanya fenomena kejiwaan tetapi sudah bermetamorfosis menjadi penyakit jiwa. Yang awalnya mungkin hanya sekedar dorongn alamiah sekarang sudah menjadi semacan candu yang kalau tidak dipenuhi kemauannya orang bisa sakau, kejang-kejang, bahkan mati. 

Kalau Karl Marx pernah bilang "agama adalah candu" mungkin ini juga bisa berlaku bagi menang kalah.  Jadi "menang kalah adalah candu". 

Terus dari mana asalnya candu abad 21 ini? Kalau merujuk dari kisah Habil dan Qabil, permulaan konflik bukan masalah siapa yang menang dan siapa yang kalah. Urusannya adalah satu orang tidak rela orang lain mendapatkan yang disangka lebih baik dari dirinya. Walaupun akhirnya diselesaikan dengan jalan kompetisi. Dimana satu pihak keluar sebagai pemenang kemudian terjadilah tragedi. 

Kompetisi sebagai jalan penengah antar manusia yang ingin menghisap candu kemenangan mempunyai berbagai dimensi. Satu sisi kompetisi memacu kreativitas, mengembangkan cara baru, bahkan tidak jarang kadang-kadang memberikan rasa memiliki tujuan (senses of purpose). Dengan kompetisi orang lalu punya gairah, semangat. Walaupun produknya adalah kebahagiaan bagi yang menang dan kesedihan bagi yang kalah. 

Manfaat ekonominya pun tidak kecil. Bayangkan berapa juta jumlah pemain sepak bola di bumi ini. Yang kehidupannya malah mungkin kehidupan anak isterinya bergantung pada kompetisi. Itu baru sepak bola belum yang lain. 

Dalam bidang politik juga sama. Lihatlah betapa ruwetnya mengatur 200 juta lebih manusia dalam suatu negara. Pemimpinya siapa, yang ngurusi sembako siapa, yang jaga keamanan siapa. Tapi semua itu dibereskan dengan jalan kompetisi. Diadakan sayembara pemilihan pemimpin. Sehingga orang-orang yang punya jiwa pahlawan, siap berkorban demi bangsanya baik harta, tenaga, bahkan nyawa, diberi kesempatan untuk berkompetisi. Siapa yang menang nanti dapat kesempatan menjadi nahkoda bangsa, menjadi wakil aspirasi rakyat untuk ngurusi yang disebutkan tadi. Yang kalah ya bersabar dan nunggu lagi kompetisi berikutnya. Maka bangsa ini dibangun atas dasar kompetisi dan yang berhak menentukan pembangunan dipersyarati harus orang yang menang. Bayangkan kalau tidak ada kompetisi, kalau Allah tidak ciptakan menang kalah, pasti kehidupan negara kita kacau tidak karuan. 

Di belantara pendidikan apa lagi. Sekolah yang unggul adalah sekolah yang mampu bersaing dengan sekolah yang lain. Entah dengan lomba dan seabrek prestasi akademik. Atau persaingan kesuksesan alumni. Macam-macam lah bentuknya. 

Sampai-sampai agama pun tidak mau ketinggalan untuk berlaga di arena kompetisi. Rasulullah saw. saya kira akan kaget dengan pencapaian manusia modern khususnya umat islam, umat beliau sendiri. Pasalnya di zaman beliau belum ada ijtihad untuk mengadakab MTQ, lomba cerdas cermat, pildacil, lomba karya tulis islam, dan banyak lagi, saya kira beliau akan kagum dengan apa yang telah kita capai. Tapi itu subjektif saya, jangan dianggap kebenaran objektif, terus tanya ini hadisnya apa, sohih apa tidak. 

Lha jebakannya dimana? Salahnya dimana? Jebakannya bukan pada adanya menang kalah. Karena adanya  menang kalah itu 100% bukan manusia yang menentukan. Saya juga tidak bisa berbuat banyak perihal menang kalah, soalnya dulu tidak di ajak diskusi waktu Tuhan bikin menang kalah. Salahnya bukan pada menangnya atau kalahnya, atau yang salah adalah yang buat (masak iya Allah mau kita salahkan). Keselahan ada pada cara pandang dan sikap manusia terhadap kemenangan dan kekalahan. Kesalahan memandang dan bersikap menyebabkab manusia terjebak kebodohannya sendiri.

Lha Allah sendiri kan nyuruh manusia untuk berkompetisi fastabiqul khoirot (Q.S Al-Baqarah : 148), terus gimana? Kalau kita cermati Allah menyuruh manusia bukan untuk berkompetisi supaya menang dan mengalahkan orang lain. Tetapi kata lomba (kompetisi) didialektikakan dengan kebaikan bukan kemenangan. Maka yang disarankan Allah adalah berjuang dalam frame berbuat baik. Dimana yang kita junjung bukan diri kita tetapi orang lain. Yang kita menangkan adalah orang lain. Anak- anak yatim piatu kita sayangi, kita bantu kehidupannya, supaya si anak merasa menang, walaupun pada kenyataannya orang tuanya sudah wafat tetapi dia merasa menang dan bahagia karena masih ada yang menyayanginya seperti orang tuanya sendiri. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain. Itulah sebenar-benarnya perlombaan, itulah konsep kompetisi sejati. Bukan perlombaan yang saling menjatuhkan. 

Lalu kenapa Allah memanggil manusia untuk menang, menuju kemenangan dalam azan ( hayya allal falah) ? Saya katakakan itulah kemenangan sejati. Menang yang sejati adalah menang yang berorientasi Ilahiah. Menang yang bukan hanya seakan-akan menang padahal tidak. Menang yang jangkauannya keabadian, yang titik beratnya adalah Allah swt. 

Azan adalah metodologi Allah untuk mengarahkan manusia menuju kemenangan sejati. Apa itu kemenangan sejati? Kemangan sejati adalah kemenangan yang membawa keselamatan (islam) bagi siapa saja. Bukan kemenangan yang mengalahkan. Ketika Allah memamnggil, kita segera melakukan simbolisasi ketertundukan kita kepada Allah. Dengan wudlu kita sucikan niat kita, dengan sujud kita sandarkan semua pengharapan kepada Allah. Ketika manusia mengarahkan kesadarannya hanya kepada Allah maka saat itulah manusia menuju kemenangan yang sejati, the ultimate victory, bukan yang semu, the pseudo victory.

Pemusatan kesadaran Ilahiah yang memancar dari dalam manusia yang tunduk kepada Allah menyebar dalam dimensi-dimensi kemanusiaan seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Sehingga yang terjadi adalah fastabiqul khoirot (kompetisi kebaikan. Fokus dari kompetisi itu bukan untuk menang dengan cara mengalahkan tetapi menang untuk menjunjung harkat martabat orang lain. Dengan menjunjung martabat sesama, jangan khawatir martabat kita sendiri lantas turun, tapi Allah lah yang akan mengangkatnya karena kita ikhlas mengankat orang lain.

Ini tidak berarti kompetisi yang sudah berlangsung saat ini kita bubarkan semua. Yang main sepak bola ya tetaplah main sepak bola, yang ikut MTQ ya jalan terus, yang ikut olimpiade ya tetap dilanjutkan. Tidak ada larangan untuk ikut yang seperti itu. Yang dilarang adalah menjadikan kemenangan dunia sebagai prioritas tertinggi, apalagi dijadikan tujuan hidup. Sampai-sampai Tuhan digeser posisinya oleh konsep menang kalah.

Semog kita tidak termasuk orang yang terjebak oleh kebodohan kita sendiri. Ya Allah Ya Hadi, berilah kami pentunjuk, tuntunlah kami menuju kemenangan sejati.

Haris Aribowo

COMMENTS

Name

act,5,al quran,2,alamanda,1,aleppo,1,bulughul maram,1,cbk,7,dakwah,1,hikmah,9,himatana,1,jendela,1,kabar internasional,2,kabar ldk,10,kabar nasional,2,kajian,1,kammi,7,kmi,22,kmi_event,3,kompaq,4,ldk univ,9,media,7,middle_east,2,muslim,1,nuruttaqwa,2,pai,4,palestina,1,pemikiran islam,34,pengembangan diri,1,pojok penyemangat,7,qurban,1,rohingya,2,sarbini,1,siria,1,syam,1,syiar,1,syria,1,takmir,9,tsaqofa,1,tsaqofah,36,wanita,1,
ltr
item
Muslim Veteran: Terjebak Menang Kalah
Terjebak Menang Kalah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIk32myqpWntXaFTgFLiDHtFTd1qjgTeHKv1Lwwi0PrrhuaoyARsbCIu5CAdtCWzv0v3cAIy1V7rjrB-I3VVUO3pNZkIrjuC_ZojINpzI4QzmbUUJZTCX32PnjyU_YtRQHXWMXiZhssI0/s320/victory.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIk32myqpWntXaFTgFLiDHtFTd1qjgTeHKv1Lwwi0PrrhuaoyARsbCIu5CAdtCWzv0v3cAIy1V7rjrB-I3VVUO3pNZkIrjuC_ZojINpzI4QzmbUUJZTCX32PnjyU_YtRQHXWMXiZhssI0/s72-c/victory.jpg
Muslim Veteran
https://muslimveteran.blogspot.com/2017/02/terjebak-menang-kalah.html
https://muslimveteran.blogspot.com/
http://muslimveteran.blogspot.com/
http://muslimveteran.blogspot.com/2017/02/terjebak-menang-kalah.html
true
157995356394649348
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy