Allah menentukan (sampai saat tulisan ini dibuat) kita masih dalam fase materi. Masih dalam semester batas, sebab akibat, sedih senang, dan berbagai hiasan dunia yang lain.
Pada fase ini banyak kita temukan tanda-tanda atau simbol-sumbol. Entah berupa padatan-padatan atau yang bersifat fenomena (perubahan). Hakikatnya hidup ini adalah simbol.
Kemudian Allah menurunkan gagasan-Nya yang kita sebut agama atau din melalui utusan-Nya. Tujuannya adalah memberi petunjuk kepada manusia yang diselimuti alam materi (simbol-simbol) kepada yang lebih esensial, yaitu tidak lain Allah itu sendiri.
Sehingga seluruh aktivitas kita tidak hanya berhenti pada gerakan dan perubahan simbolik tetapi mencapai makna yang tertinggi
“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (Al An'am 162)
Sholat secara simbolik berarti bergerak sperti layaknya orang sholat (sujud, rukuk, dll) tetapi jangan hanya berhenti pada gerkannya. Dari gerakan yang meteriil itu kita transformasikan menjadi sesuatu yang lebih esensial spiritual.
Sholat mengajarkan kita untuk menghadapkan wajah kita kepada Allah (dengan simbolisasi kiblat) semata. Seharusnya hal itu juga menjadi esensi dan orientasi hidup, cara berpikir, skala prioritas, dan setiap sisi dari kehidupan yang kita jalani. Allah menjadi pusat (kiblat) kehidupan.
Sujud merupakan simbolisasi ketertundukan dan keprasahan manusia kepada Allah. Maka konsepsi itulah yang juga menentukan setiap keputusan yang kita ambil. Kita berusaha dengan akal menentukan segala tindakan yang nantinya sesuai dengan apa yang diinginkan Allah untuk kita kerjakan.
Dan masih banyak lagi simbolisasi-simbolisasi yang seharusnya tidak berhenti hanya pada simbol belaka.
Misalnya dalam bidang sosial, rukun zakat menjadi suatu tanda kepedulian pada sesama. Tapi jangan hanya berhenti pada sekedar mengeluarkan yang 2,5 % saja. Konsep zakat juga harus kita transformasikan secara esensial pada level yang lebih makro. Bahwa landasan ekonomi harusnya dibangun berdasarkan asas kepentingan bersama bukan penghisapan satu pihak terhadap pihak lain, yang ujungnya adalah kepentingan kelompok atau pribadi (kapitalisme). Dengan demikian akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang saling menyelamatkan (islam) satu sama lain dan jelas hal itu sesuai dengab kehendak Allah yaitu islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Transfomasi dari simbol-simbol materiil menjadi semangat yang lebih esensial adalah salah satu tujuan agama.
