Pengetahuan manusia dibatasi oleh
panca indera. Apa-apa yang kita terima jika dilihat dari sudut pandang materi
adalah apa-apa yang bisa diterima oleh panca indera. Dari mulai penglihatan,
pendengaran, perabaan, rasa.
Dan yang menjadi sumber pengetahuan zaman modern
ini, diserahkan sepenuhnya oleh daya tangkap kita terhadap benda-benda melelui
panca indera. Wajar saja manusia sangat mengandalkannya, karena ‘rasa’ hidup
itu baru bisa dirasakan dengan panca indera. Manusia juga tidak bisa mengelak
dari hal ini. Mungkin ini alasan munculnya paham materialis.
Semua parameternya
adalah benda. Fenomena apapun dipandang dengan cara memandang benda. Sebisa
mungkin apa saja yang ada dibendakan, dicari rasionalitasnya, dirumus-rumuskan.
Jika sudah tidak bisa dibendakan diambil kesimpulan bahwa fenomena itu tidak
ada atau belum bisa diketahui sehingga harus menunggu perkembangan sampai
ketemu formula kebendaannya.
Jadilah manusia terkurung di dalam
benda. Di dalam alam pikiran materi. Yang kalau ditelusuri jejaknya akan
tercium di dalam abad mutakhir ini pada segala bidang. Entah di metodolgi,
ideologi, tujuan hidup, sistem hubungan kemasyarakatan, konstitusi, hukum,
bahkan agama tidak bisa lepas dari kungkungan kebendaan.
Coba kita lihat
sejarah beberapa ratus tahun yang lalu. Arus pembangunan peradaban dunia secara
keseluruhan didasari oleh materi, diakui atau tidak. Segala tindakan sejarah
yang dilakukan didasarkan atas materi yang dimanifestasikan dalam berbagai
bentuk seperti perdagangan, perang, penjajahan, politik, diplomasi, pendidikan,
pembangunan, pengembangan ilmu, dan lain-lain.
Efeknya adalah apa yang kita
alami saat ini. Teknologi semkin berkembang pesat bahkan laju perkembangannya
semakin lama semakin cepat alias mengalami percepatan. Hidup terasa lebih mudah
dengan hiasan-hiasan materi yang bermacam-macam yang setiap saat diperbarui
sehingga semakin canggih dan membuat kita kagum.
Tetapi diam-diam ada arus
tersembunyi yang merambat melintasi sejarah dengan cara pandang kebendaan. Arus
ini mempunyai efek transformatif. Artinya arus ini menyebabkan berubahnya
haluan atau cara pandang. Perubahan ini tidak tanggung-tanggung berhasil
menghegemoni seluruh lapisan kehidupan manusia. Hampir tidak ada manusia yang
tidak pernah bertemu atau tidak dilewati arus ini walaupun efek perubahannya
belum tentu berlaku pada semua orang. Saya sebut arus tersebut sebagai arus
transformatif materialis.
Transformatif karena berakibat perubahan, materialis
karena perubahannya menuju kebendaan. Pertanyaannya, lalu kenapa kalau ada
fenomena arus seperti itu? Apa jeleknya? Bukankah arus ini yang membuat
terjadinya kemajuan sekarang ini, yang menjadi tonggak munculnya zaman
renaisans sampai ke revolusi industri.
Bukannkah arus ini juga yang
mengantarkan kita sehingga sekarang kita bisa menikmati kenyamanan hidup dengan
segala aksesorisnya? Kalau kita memandang hal ini dengan cara pandang
materialis tentu saja tidak ada masalah bahkan kita cederung mendukungnya,
menjadikannya pedoman, memasukkan nila-nilainya dalam segala bidang kehidupan
dengan alasan sudah terbukti membawa kemajuan.
Bersambung....
