Tuhannya Syahwat, Nabinya para pemilik modal, Kitab sucinya lembaran uang (1)




Pengetahuan manusia dibatasi oleh panca indera. Apa-apa yang kita terima jika dilihat dari sudut pandang materi adalah apa-apa yang bisa diterima oleh panca indera. Dari mulai penglihatan, pendengaran, perabaan, rasa. 

Dan yang menjadi sumber pengetahuan zaman modern ini, diserahkan sepenuhnya oleh daya tangkap kita terhadap benda-benda melelui panca indera. Wajar saja manusia sangat mengandalkannya, karena ‘rasa’ hidup itu baru bisa dirasakan dengan panca indera. Manusia juga tidak bisa mengelak dari hal ini. Mungkin ini alasan munculnya paham materialis. 

Semua parameternya adalah benda. Fenomena apapun dipandang dengan cara memandang benda. Sebisa mungkin apa saja yang ada dibendakan, dicari rasionalitasnya, dirumus-rumuskan. Jika sudah tidak bisa dibendakan diambil kesimpulan bahwa fenomena itu tidak ada atau belum bisa diketahui sehingga harus menunggu perkembangan sampai ketemu formula kebendaannya.

Jadilah manusia terkurung di dalam benda. Di dalam alam pikiran materi. Yang kalau ditelusuri jejaknya akan tercium di dalam abad mutakhir ini pada segala bidang. Entah di metodolgi, ideologi, tujuan hidup, sistem hubungan kemasyarakatan, konstitusi, hukum, bahkan agama tidak bisa lepas dari kungkungan kebendaan. 

Coba kita lihat sejarah beberapa ratus tahun yang lalu. Arus pembangunan peradaban dunia secara keseluruhan didasari oleh materi, diakui atau tidak. Segala tindakan sejarah yang dilakukan didasarkan atas materi yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk seperti perdagangan, perang, penjajahan, politik, diplomasi, pendidikan, pembangunan, pengembangan ilmu, dan lain-lain. 

Efeknya adalah apa yang kita alami saat ini. Teknologi semkin berkembang pesat bahkan laju perkembangannya semakin lama semakin cepat alias mengalami percepatan. Hidup terasa lebih mudah dengan hiasan-hiasan materi yang bermacam-macam yang setiap saat diperbarui sehingga semakin canggih dan membuat kita kagum. 

Tetapi diam-diam ada arus tersembunyi yang merambat melintasi sejarah dengan cara pandang kebendaan. Arus ini mempunyai efek transformatif. Artinya arus ini menyebabkan berubahnya haluan atau cara pandang. Perubahan ini tidak tanggung-tanggung berhasil menghegemoni seluruh lapisan kehidupan manusia. Hampir tidak ada manusia yang tidak pernah bertemu atau tidak dilewati arus ini walaupun efek perubahannya belum tentu berlaku pada semua orang. Saya sebut arus tersebut sebagai arus transformatif materialis. 

Transformatif karena berakibat perubahan, materialis karena perubahannya menuju kebendaan. Pertanyaannya, lalu kenapa kalau ada fenomena arus seperti itu? Apa jeleknya? Bukankah arus ini yang membuat terjadinya kemajuan sekarang ini, yang menjadi tonggak munculnya zaman renaisans sampai ke revolusi industri. 

Bukannkah arus ini juga yang mengantarkan kita sehingga sekarang kita bisa menikmati kenyamanan hidup dengan segala aksesorisnya? Kalau kita memandang hal ini dengan cara pandang materialis tentu saja tidak ada masalah bahkan kita cederung mendukungnya, menjadikannya pedoman, memasukkan nila-nilainya dalam segala bidang kehidupan dengan alasan sudah terbukti membawa kemajuan.

Bersambung....

COMMENTS

Name

act,5,al quran,2,alamanda,1,aleppo,1,bulughul maram,1,cbk,7,dakwah,1,hikmah,9,himatana,1,jendela,1,kabar internasional,2,kabar ldk,10,kabar nasional,2,kajian,1,kammi,7,kmi,22,kmi_event,3,kompaq,4,ldk univ,9,media,7,middle_east,2,muslim,1,nuruttaqwa,2,pai,4,palestina,1,pemikiran islam,34,pengembangan diri,1,pojok penyemangat,7,qurban,1,rohingya,2,sarbini,1,siria,1,syam,1,syiar,1,syria,1,takmir,9,tsaqofa,1,tsaqofah,36,wanita,1,
ltr
item
Muslim Veteran: Tuhannya Syahwat, Nabinya para pemilik modal, Kitab sucinya lembaran uang (1)
Tuhannya Syahwat, Nabinya para pemilik modal, Kitab sucinya lembaran uang (1)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmeTiaWsJwZWgfFghUtyoUB87VUDqemfmS_gvvIBEtrVZKvMe80O7kPrMrTEA7vbEF5tfjnPMZ0dTEthxyTkiZJOtohfRWFJW-OZBG2yXYYjqhivQbw6w6fwYsy7D2PZODlx0oXUVdRZw/s320/capitalism-cartoonweb.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmeTiaWsJwZWgfFghUtyoUB87VUDqemfmS_gvvIBEtrVZKvMe80O7kPrMrTEA7vbEF5tfjnPMZ0dTEthxyTkiZJOtohfRWFJW-OZBG2yXYYjqhivQbw6w6fwYsy7D2PZODlx0oXUVdRZw/s72-c/capitalism-cartoonweb.jpg
Muslim Veteran
https://muslimveteran.blogspot.com/2017/02/tuhannya-syahwat-nabinya-para-pemilik.html
https://muslimveteran.blogspot.com/
http://muslimveteran.blogspot.com/
http://muslimveteran.blogspot.com/2017/02/tuhannya-syahwat-nabinya-para-pemilik.html
true
157995356394649348
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy