Mari kita perluas cakrawala kita,
kita lihat masalah ini dari berbagai sudut pandang, dengan berbagai macam jarak
pandang, dan sebisa mungkin dengan resolusi pandang yang sejernih-jernihnya
sehingga mampu menghasilkan kesimpulan yang komprehensif. Pertama ambil jarak
pandang yang cukup jauh agar dihasilkan gambar yang menyeluruh.
Gambarnya bisa dirumuskan dengan
pertanyaan dari mana asalnya, mau berjalan kemana, sekarang sudah sampai dimana?
Dari mana asalnya : yang paling mendakati jawaban atas pertanyaan ini adalah
syahwat. Walaupun rumusan kenbendaannya belumlah jelas tetapi fenomena syahwat
bisa sangat dirasakan manusia, dia seperti angin yang berhembus yang
menerbangkan daun tanpa pernah bisa kita lihat wujudnya.
Begitu juga dengan syahwat,
menerbangkan hati dan akal manusia untuk cenderung mencintai benda. Ibarat
syahwat adalah potensi negatif yang ada dalam diri manusia, sedangkan
benda-benda dalah potensi positif. Keduanya akan saling tarik menarik yang
saking kuatnya sehingga punya energi transformatif. Perubahannya tentu saja ke
arah benda karena syahwat tidak pernah puas dengan dirinya sendiri, dia
memerlukan kepuasan dari luar dirinya.
Masalahnya adalah daya tampung
syahwat itu tidak terbatas, dia akan melahap apapun yang disuguhkan kepadanya
tanpda pernah kenyang. Besarnya energi yang dihasilkan syahwat dan luasnya daya
tampungnya menjadikan syahwat berposisi layaknya Tuhan. Disembahlah syahwat
oleh manusia. Dituruti segala perintahnya, dijadikannya syahwat sebagai sumber
inspirasi dan hukum, dasar hidup, tujuan, dan seluruhnya dibungkus dengan Tuhan
syahwat. Mau berjalan kemana : tentu saja Tuhan tidak lantas berkomunikasi langsung
dengan hambanya.
Dibutuhnkan penerjemah
firman-firmannya supaya hambanya mengerti maksud Tuhan, dengan kata lain tahu
mau berjalan kemana sesuai dengan perintahnya. Akhirnya syahwat mengutus
nabinya yang diberi tugas menuntun segenap umat menempuh jalan penghambaan.
Nabi ini ditakdirkan dengan kemampuan luar biasa dan kesaktian yang mumpuni.
Ialah para pemilik modal utusan Tuhan.
Dengan kecerdasan dan kelincahannya
dituntunlah umat ke jalan syahwat. Dimanfaatkannya pemberian Tuhan berupa modal
untuk diputar demi kepentingan Tuhan. Dari sinilah dimulai transformasi
berbagai lini. Disebarkan ajaran-ajaran sampai kepelosok bumi sampai akhirnya
terbentuklah kerajaan para nabi.
Anda bisa lihat istana-istana para
nabi ini, begitu megah dan indahnya, membuat oarng terpana dan membuat orang
berbondong-bondong mengikuti risalahnya. Lihatlah mal-mal, perkantoran,
pabrik-pabrik, institusi-institusi, disanalah gubuk para nabi. Tetapi tidak
semua orang bisa ketemu dengan nabi, maka nabi dengan kecerdasannya menuliskan
fiman Tuhan pada lembaran-lembaran yang nanti akan diresmikan sebagai kitab
suci yaitu uang.
Ini kitab suci paling sederhana
sepanjang sejarah. Tidak perlu dipahami dengan ilmu bahasa tetapi langsung bisa
memberikan pemahaman akan risalah dan jalan yang harus ditempuh menuju Tuhan.
Inilah tiga asa agama yang saya jelaskan di atas. Sudah sampai mana : agama ini
sudah begitu banyak dianut manusia, sebagai agama, sudah sampai taraf
pengamalan secara total dan sempurna, sehingga tahap berikutnya adalah pelestarian,
penjagaan,pengembangan dan pewrisan nila-nilainya.
Bersambung......
