Kedua, ambillah sudut pandang lain
untuk memahami fenomena ini. Sudut pandangnya adalah sudut pandang rohani
dengan bekal fitrah yang ada pada manusia. Sebenarnya syahwat bukan
satu-satunya potensi yang ada pada diri manusia. Ada semacam ketersambungan
yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
Sebuah tali yang kalau manusia mau
memeganggnya erat-erat maka akan kuat pijakan manusia. Pijakan menjalani hidup,
mengkhalifai hati, akal, bahkan syahwat yang dianggap Tuhan oleh sebagian
manusia. Kita bisa bergeser ke sudut pandang ini dengan satu syarat yaitu
keimanan. Dari sudut ini akan kita peroleh suatu gambaran yang lebih
komprehensif.
Pandangan pada sudut ini akan mampu
menerawang segala sudut yang lain, artinya akan terciptanya keseimbangan
berfikir, analisa, pemetaan, yang semua itu disebut dengan keadilan. Kenapa
disebut keadilan? Karena di sini segala sesuatu diletakkan sesuai dengan
tempatnya. Tidak ada yang tidak tertata dengan baik.
Sehingga syahwat pun akan
mengahasilkan sesuatu yang baik dan indah dalam sudut pandang ini. Keseimbangan
yang terjadi berakibat memunculkan arus perubahan yang tidak hanya sekedar kuat
tetapi juga menyelamatkan apa-apa yang dilewati dan disentuhnya. Sampai-sampai arus
ini diberi gelar oleh yang membuat sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dijelaskan bahwa manusia bukannya
tidak boleh mengolah dan mendaya gunakan materi, tetapi menempatkan materi
sebagai alat bukan tujuan. Disetiap tindakannya tujuan bukan memenuhi tuntutan
syahwat, tetapi berusaha merohanikan setiap tindakan yang berhubungan dengan
benda. Merohanikan dalam arti memandang benda sebagai alat menuju Allah. Tentu
saja dengan rambu-rambu yang oleh Allah sendiri sudah disiapkan.
Setelah itu kita tingkatkan resolusi
pandang kita dalam sudut pandang ini. Meningkatkan resolusi berati juga
menambah kejelasan, detail, keakuratan, presisi, dan kelengkapan gambar
sehingga setiap bagiannya bisa kita perdalam tanpa mengalami kekaburan. Salah
satunya dengan memetakan cara pandang yang dibawa arus transformatif
materialis. Kita harus melihat akibat apa saja yang akan kita tanggung ketika
syahwat dengan cara yang tidak adil kita posisikan sebgai Tuhan. Kebendaan
identik dengan kenimatan jasad.
Ketika manusia sudah buta dengan
kenikmatan jasad dipenuhilah hatinya dengan syahwat. Terisi penuh sehingga
tidak ada tempat untuk rasionalitas. Ketika hilang rasionalitas maka hilanglah
regulasi kehidupan. Hilanglah peran akal sebagai penjaga keteraturan. Akal
hanya akan menjadi budak syahwat untuk memenuhi kebutuhannya.
Kalau sudah seperti itu rusaklah
sikap hidup (ahlaq) manusia. Ahlaq manusia landasannya adalah akal yang
berfungsi sejajar dan saling bekerjasama dengan hati dan syahwat. Ketidak
berfungsian ini bisa kita lihat dari rusaknya tatanan sikap manusia materialis.
Hilanglah sudah pada diri mereka parameter baik buruk. Semuanya dianggap baik
asalkan sesuai dengan tujuan kebendaan.
Nabiullah Muhammad SAW. diutus dengan dibekali
Ahlaqul Karimah (sikap hidup yang mullia). Kenapa Nabi tidak dibekali dengan
modal yang besar sehingga mampu juga membuat kemajuan semerti ‘nabinya’ para
penyembah syahwat? Nanti kan lebih efektif dan bisa dipastikan akan lebih
banyak orang mengikuti beliau.
Tapi Allah berkehendak lain,
dikehendakinya kemulian itu bukanlah berapa banyak materi yang bisa kamu
kumpulkan dan nikmati tetapi kemulian adalah sikap hidupmu (ahlaq). Sikap hidup
yang bisa membawa keselamatan bagi dirimu dan orang lain dan kektika dia
mencapai level tertinggi terciptalah yang diesebut rahmat bagi seluruh alam. Disini
terlihat keluasannya pandangan ini, tidak hanya materi yang dirangkul tetapi
rohani.
Bagi anda yang bukan penganut agama
materialis sebaiknya tidak usah berkecil hati. Walaupun kenyataannya anda
adalah minoritas. Agama materialis sudah semakin dahsyat menancapkan akarnya.
Ditopang dengan penguasaan modal oleh nabi-nabi meraka dan kitab suci berupa
lembaran uang yang semakin dihayati oleh pengikutnya.
Tetapi semua itu tidak akan kekal
apalagi abadi. Tengoklah sejarah bagaimana kejayaan itu dipergilirkan diantara
manusia. Belum pernah ada kejayaan yang lestari terus menerus, bahkan kejayaan
Baginda Raja Sulaiman as. pun harus tunduk dengan pergilran itu. Kecuali
kejayaan Al-Mulk Allah SWT. Maka sembahlah Allah yang tidak pernah luntur
kekuasaan-Nya. Hidup itu perjungan, segala kebangkitan dan kehancuran hanyalah
sekenario dan iradah Allah yang harus dijalani. Manusia hanya wajib berjuang
dengan ahlaqul karimah.
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum
(kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman
(dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai)
syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (QS Ali Imran, Ayat
140)
