Perjalanan
hidup adalah pencarian. Tentu saja pencarian bukan dalam arti materiil. Bukan hanya
mencari yang bisa di serap pancaindra. Tidak harus hilang dulu baru mencari. Tapi
hakikatnya hidupmu, hidupku, hidupnya adalah kumpulan dari satu pencarian ke
pencarian berikutnya.
Berbagai macam
bentuk pencarian. Tetapi secara umum manusia mencari dengan dua metode, mencari
ke dalam atau ke luar. Dan yang dianut oleh mayoritas peradaban manusia adalah
pencarian keluar.
Artikulasi dari
pencarian ke luar bisa bermacam-macam bentuknya. Bahkan menjadi sub-sub
metodologi tersendiri. Pencarian substansi ketahanan hidup menyebabkan orang
bertani. Pencarian keteraturan bersosialisasi, manusia membuat kerajaan. Berkembang
terus sampai model yang paling modern berupa negara. Itupun masih tercabang
pada sub-sub bentuk negara.
Mencari kejayaan
menyebabkan penjajahan. Baik di bidang ekonomi, politik, budaya, bahkan agama
juga seringkali digunakan sebagai alat menjajah.
Mencari penjelasan
tentang berbagai fenomena melahirkan ilmuan, filosof, ulama, peneliti,
spesialis, dan berbagai ahli-ahli partikular lainnya. Semua itu esensinya
adalah pencarian.
Dan daftar
pencarian manusia bisa dituliskan tiada henti. Karena memang hakikat hidup
adalah pencarian.
Yang sudah
disebutkan di atas adalah pencarian ke luar. Artinya semua potensi dan
konsentrasi manusia di arahkan ke luar dirinya sendiri. Modal utamanya adalah
pancaindra. Penglihatan, pendengaran, dan semua potensi fisik yang dimiliki.
Walau pun dalam
proses penguraian dan pengambilan keputusan dibutuhkan potensi dalam. Sering disebut
jiwa, atau dengan terminologi quran disebut ruh. Atau terserah dengan bahasa
apa dan bagaimana, yang jelas semua itu mengacu pada yang dibalik fisik. Apa yang
ada di balik segumpal daging dan darah serta zat-zat lain yang menyusun tubuh.
Tapi itu
kadang disadari kadang tidak. Orang lebih sering menganggap proses itu sebagai
hasil kerja otak. Dimana otak sering “dituduh” sebagai organ yang bertanggung
jawab pada proses penalaran dan segala tindakan manusia.
Padahal hakikat
manusia bukanlah pada organ biologisnya. Atau bisa direduksi dari kumpulan
neuron-neuron yang saling berhubungan yang jumlahnya berjuta-juta. Manusia lebih
dari sekedar fisik. Manusia juga mempunyai sisi metafisik.
bersambung.......