Gerakan
mengilingi ka’bah (tawaf) adalah salah satu ritual dalam islam. Dimana umat
nabi Muhammad melaksanakannya ketika haji atau umrah. Dari tawaf ini kita bisa
mengambil pelajaran. Bahkan bukan hanya pelajaran, levelnya bisa mencapai ilmu.
Ketika akal
kita menjumpai kegiatan mengililingi ka’bah, seharusnya tidak hanya berhenti
sampai disitu. Harus ada pendalaman dan sublimasi yang lebih dari sekedar
gerakan.
Muatan dari
ritual tawaf bisa kita uraikan sampai gerakan tersebut menjadi sebuah metodologi.
Menjadi sebuah frame berfikir yang sudah seharusnya umat islam menggunakannya.
Inilah salah
satu implementasi dari transformasi spiritual (baca tulisan berjudul “Transformasi
Spiritual : Dari Simbolisasi Menuju Esensi). Hanya dari twaf saa kita bisa
mengambil air ilmu dari samudra yang luas, yang belum bisa diukur luasnya dan
kedalamannya.
Metodologi
(ilmu tentang cara) adalah suatu kerangka yang mendasari cara berpikir sehingga
dari kegiatan berpikir itu dihasilkan informasi atau ilmu yang baru. Sehingga tawaf
disini menjadi sebuah metodologi yang akan menghasilkan ilmu-ilmu yang tentu
saja sesuai dengan kehendak Allah. Karena mesin penghasil ilmu itu bersumber
dari riual yang Allah perintahkan kepada nabi unutk kita tiru.
Pertama mari
kita perhatikan kegiatan yang disebut tawaf. Apa yang dikelilingi? Ka’bah. Dengan
gerakan ini manusia terlebih dahulu memusatkan segala tenaga dan orientasinya
guna melakukan gerakan berkeliling tersebut. Dispusatkan ke apa? Apakah hanya
kepada bangunan ka’bah?
Tentu saja
tidak. Ka’bah hanyalah sebuah bangunan. Kalau dikatakan bahwa ka’bah itu rumah
Allah, jangan dibayangkan bahwa Allah itu tinggal di ka’bah. Allah yang maha
agung tidak bisa dibatasi oleh ruang. Dia meliputi segala sesuatu.
Sehingga
pemusatan hakikatnya bukan kepada ka’bah tetapi kepada Allah swt. Bukan
bangunannya tetapi Allah. Itu seperti ketika kita berkurban pada idul adha,
yang kita sampaikan kepada Allah bukan darah dan daging tetapi keikhlasan kita
mengeluarkan kurban.
Bersambung..........
