Lalu apa
yang dipusatkan? Yang dipusatkan adalah segala sesuatu yang sanggup dan memang kita
diberikan sedikit kehendak untuk membuatnya terpusat. Segala potensi yang ada
pada dirumu, pusatkanlah pada Allah. Dalam hal ini bisa kita ambil sebagai
perlambang pemusatan pemikiran.
Pemikiran
yang berpusat dan bersumbu kepada Allah. Sehingga dengan keterpusatan itu
orientasi berpikir kita adalah Allah. Dimana pun kita berada (seperti ketika
berputar mengelilingi ka’bah, kita akan melihat berbagai sisi ka’bah)
pertimbangan kita adalah Allah.
Cara pandang
ini memberikan jaminan pada output dari hasil berpikir kita. Jaminan bahwa
hasilnya seusai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Tahap
berikutnya kita tingkatkan lagi cakrawala kita tentang gerakang melingkar. Ketika
kita melingkar (tawaf) maka akan terlihat oleh mu semua sisi ka’bah. Tidak hanya
ka’bah dari kanan, ka’bah dari kiri, atau ka’bah dari utara, selatan, timur,
barat. Tetapi ka’bah dari setiap jengkal sisinya.
Amsal ini jika
dipakai sebagai metodologi berpikir akan menghasilkan cara berpikir yang
komprehensif. Bukan cara berpikir sejengkal dan fakultatif. Tetapi berpikir
yang menyeluruh dan mampu melihat sesuatu dari berbagai sisi.
Dengan etos
seperti itu, pandangan semakin luas, peta ilmu semakin lengkap. Pada akhirnya
menghasilkan keputusan yang adil. Artinya keputusan mu akan berdiri tidak
condong ke kiri atau ke kanan. Keputusan mu tegak dengan tali yang tegak lurus
menuju aras ilahi.
Berpikir
melingkar adalah berpikir dengan kelengkapan ilmu, keluasan pandangan,
ketepatan analisa. Di sanalah pusat sumbu kebenaran. Di sanalah keputusan yang
menyelamatkan.
