Simposium
yang terdiri dari pakar dalam berbagai bidang. Terserah mau pakar apa. Karena
azab tidak hanya berlaku bagi masalah-masalah sosial.
Perkara
ekonomi juga bisa berlaku sebagai azab. Ketimpangan antara orang kaya dan
miskin yang terlalu lebar memberikan ekses negatif.
Di bidang
teknologi. Kemajuan rekayasa teknologi dengan mamanfaatkan sumber daya alam dan
pengetahuan tentang hukum alam tidak selamanya membawa manfaat.
Dalam dunia
politik, perebutan kekuasaan sering kali bahkan hampair sebagian besar
menimbulkan krisis kemanusiaan. Pembantaian, penjajahan, eksploitasi komunitas
yang lebih lemah, dan masih banyak lagi variasi azab yang terjadi.
Dan jangan
dikira ilmu tidak bisa menjadi pintu gerbang memasuki azab. Berapa banyak orang
yang sesat karena ilmunya. Bukan sesat karena bodoh. Bahkan semakin banyak
ilmunya semakin dia jauh dari kebenaran.
Kalau kita
renungkan, betapa banyak sisi dalam kehidupan kita yang bisa berperan dalam timbulnya
azab.
Maka
simposium azab adalah ruang refleksi bagi seluruh manusia untuk memetakan
dimana posisinya. Apakah dia berada di koordinat berkah ataukah azab.
Dengan
syarat kita harus mau membuka pikiran seluas-luasnya. Hati harus mau menerima
kemungkinan bahwa selama ini bukan berkah yang kita dapat tetapi azab.
Kita gunakan
potensi yang diberikan oleh Allah berupa akal dan hidayah yang selalu
ditebarkan dan masuk ke dalam hati orang-orang yang dijelaskan di dalam Quran
yang mendengarkan
perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah
orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang
mempunyai akal. (Az Zumar, 39)
Gerbang azab
memang tidak identik dengan penderitaan. Begitu pula keberkahan tidak selalu
diawali dengan kegembiraan. Walaupun bisa juga linier.
Probabilitas
yang begitu banyak itu harusnya membuat kita lebih waspada.
