Kata ini
sering kita dengar ketika ada seseorang meninggal dunia. Meninggal dunia (mati)
sering dipersepsikan sebagai rajiun atau kembalinya mahluk kepada khalik.
Dari kalimat
itu, ketika kita mau menggali dan mentadaburi maknanya, terdapat sesuatu yang
lebih besar dari sekedar fenomena biologis (mati). Bahkan titik berat kalimat
bukanlah kematian yang materiil, tetapi cara menjalani kehidupan.
Atau bisa
dielaborasikan sebagai filsafat hidup. Ketika manusia melampaui kehidupan
dengan jalan kematian, kondisinya bagi kita yang masih hidup adalah gaib. Artinya
belum pernah ada yang bisa menggambarkan apa yang sesungguhnya dirasakan ketika
sudah mati.
Yang bisa
kita ketahui adalah berita-berita yang disampaikan oleh Nabi. Itupun gambaran
dengan bahasa manusia dengan segala keterbatasannya. Kegaibannya terlalu berat dan sulit jika
manusia diwajibkan mempelajarinya.
Sehingga
kalimat Inna Lillahi Wa inna Ilaihi
Rajiun haruslah mempunyai bangunan metodologi yang bisa kita capai dengan
segala kelemahan sebagai manusia.
Bahan yang
diberikan Allah itu bisa kita rangkai menjadi sebuah bangunan ilmu yang
mendasar (filsafat) tentang kehidupan. Karena memang kehidupannlah gelanggang
perjuangan yang harus ditempuh dan sudah disediakan oleh Allah kepada manusia.
Tentu
prosesnya tidak mudah untuk membangun ilmu tersebut (filsafat hidup). Tulisan
ini bersifat muqadimah bagi proses tersebut.
Seperti
halnya Allah SWT pernah berfirman bahwa Ia tak segan-segan membuat perumpamaan
(amsal) seperti nyamuk bahkan yang lebih rendah dari itu
Sesungguhnya Allah
tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar
dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud
Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak
orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang
yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali
orang-orang yang fasik (Al Baqarah, 26)
Disini akan
kita “pinjam” perbendaharaan ilmu-Nya untuk membangun filsafat tersebut.
Jelas yang
akan kita ambil bukan objeknya (nyamuk) atau yang lebih rendah dari itu. Tetapi
cara berpikirnya yang akan kita jadikan alat.
Allah pun
juga sudah memberikan alat lain berupa amsal tentang pohon.
Tidakkah kamu
perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti
pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (Ibrahim,
24)
Demikian
pula dengan filsafat hidup. Akar atau pondasinya harus kuat menghujam. Kalau diterjemahkan
bisa berarti cara berfikirnya harus konsisten. Mempunyai daya nalar yang kuat
dan presisi yang setepat-tepatnya.
Barulah
filsafat hidup yang menghujam tersebut akan menjulang ke langit, seperti
fenomena rajiun.
Bersambung.......
