Sisi
metafisik itulah yang oleh Allah disebut sebagi ruh.
Banyak oang
yang membahas mengenai ruh. Beribu kitab mengulas tentang ruh. Tapi jangan dulu
merasa pembahasannya sudah selesai. Karena sebanyak apapun tulisan, teori,
spekulasi tentang ruh, itu semua tidak lebih dari seujung kuku pengetahuan
manusia.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu
termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit." (Al Isra’, 85)
Termasuk tulisan ini. Hanyalah bagian dari keterbatasan manusia. Masih
dalam lingkup “melainkan sedikit”.
Tetapi getaran dan panggilan jiwa nyata kita rasakan. Mungkin kita bisa
lari dari kebenaran dari luar diri kita. Namun tidak banyak manusia yang bisa
lari dari panggilan jiwanya.
Fenomena kebangkitan religiusitas manusia modern kemungkinan besar adalah
tarikan dari dalam diri manusia sendiri. Tarikan jiwanya.
Karena bukan definisi manusia modern, jika masih percaya dengan mitos,
dengan khayalan, dengan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara
empirik-sensual.
“Agama” yang dianut manusia modern adalah “agama” materialistik. Kalau pancaindra
tidak bisa mencerna, bagi manusia modern itu non sense, mitos, angan-angan, dan
ada yang merumuskan bahwa itu adalah ciri kebodohan.
Tapi semakin modern manusia, kenyataan berkata lain. Jiwanya semakin
haus.
Karena sudah terlalu lama dibiarkan kering oleh budaya kebendaan. Sehingga
ramai-ramai barisan jiwa-jiwa yang lapar ini menagih peradaban yang dibangun
manusia akan hak-hak nya.
Anda bisa temui berapa banyak orang-orang modern yang mencari ketenangan
jiwa dengan meditasi, yoga, atau dalam beberapa waktu peri ke tempat yang jauh
dari hingar-bingar kehidupan.
Menurut saya itulah panggilan jiwa. Jiwanya menagih apa yang seharusnya
didapatnya. Kalau musuh mu adalah orang lain mungkin masih bisa kita hindari. Tapi
kalau musuhmu adalah dirimu sendiri. Kalau yang mencarimu adalah jiwamu
sendiri. Padahal ia adalah esensi dari kemanusiaanmu. Mau lari kemana kamu?
bersambung........