Perrhatikan
burung yang ditakdirkan mampu terbang tinggi. Pada ketinggian itulah burung
mempunyai potensi pandangan yang luas. Tidak seperti manusia, burung mampu
melihat keadaan secara lebih komprehensif.
Liku-liku
jalan bisa diamatinya dengan seksama. Tujuan akhir pun lebih mudah ia rumuskan
daripada manusia yang pandangannya terbatas hanya didepannya.
Burung (thoir)
dalam hal ini mewakili ciptaan Allah yang mempunyai presisi tinggi dalam
memandang sesuatu. Kelengkapan informasinya membuat cara berpikir (manthiq/logika)
burung menjadi cara berpikir yang tajam.
Menimbang
sesuatu secara seksama dan lengkap. Bukan hanya hipotesa tetapi sudah mencapai
tingkat ketepatan yang tinggi.
Kalau kita
lihat pada konteks kisah Nabi Sulaiman as. dengan burung hud-hud. Maka tidak
hanya ketegasan Sulaiman kepada hud-hud yang menjadi sorotan.
Salah satu
dimensinya adalah bagaimana ketepatan penalaran hud-hud tentang kondisi suatu
masyarakat. Tentu saja dengan keunggulannya berupa manthiq at thoir yaitu
logika dengan presisi ketepatan tinggi.
Pintu
penalaran diawali dengan masuknya berbagai informasi. Pandangan luas burung
ibarat aliran informasi. Setelah itu beribu gambaran tentang sesuatu tersebut
diolah dengan mesin yang bernama akal dengan software yang disebut manthiq/
logika. Dari olahan inilah dimunculkan berbagai kesimpulan-kesimpulan.
Kecapatan
dan ketepatan kesimpulan bergantung dari sebera besar kukuatan mesin (akal),
kecanggihan software (manthiq/logika), dan keluasan aliran informasi (cara
pandang).
Seharusnya
manusia banya belajar dai burung dalam berpikir. Burung mempunyai spektrum
pandangan yang lebih luas dan detail dari mata manusia. Lihatlah burung yang
sudah mengincar ikan dilaut dari jarak ketinggian. Dengan tepat menukik tajam
menyambar ikan tersebut. Dengan timing dan akurasi luar biasa.
Tentu saja
kecanggihan tersebut bukanlah semata-mata usaha burung sendiri. Burung merupakan
ayat Allah yang dibentangkan agar manusia mengambil pelajaran. Dan hanya orang
yang berakal yang mengambil pelajaran.
Ini adalah sebuah kitab
yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
(Shaad, 29)
Dalam kisah
tersebut sepertinya Allah memberikan gambaran cara berpikir. Dimana ketepatan
susatu hipotesa berbanding lurus dengan luas cakupan pandangan sang pemikir.
Maka hud-hud memenuhi syarat tersebut. Dengan posisi ketinggian dan mata
pandang yang tajam sehingga menghasilkan kesimpulan yang benar, dan tentu saja
diawali dengan cara berpikir yang benar.
